Agatha adalah seorang gadis 21 tahun yang baru saja menyelesaikan studinya di sebuah Universitas ternama sebagai lulusan terbaik.
Namun, menjadi lulusan terbaik dengan IPK sempurna nyatanya tak dapat membuat hidupnya yang adalah seorang yatim piatu...
PTMH! hadir lagi buat menemani senin kalian siang ini..
Sebelumnya mari kita sama-sama mendoakan negara kita yang saat ini sedang tidak baik2 saja.. Semoga Allah melindungi negara kita dan rakyatnya dari marabahaya..
Aamiin..
Okedeh, semangat untuk kita semua, Indonesia JAYA JAYA JAYA!
PTMH! AYO SEMOGA CEPAT DITAMATIN!
WKWKWKK
Happy bacaa semuaa🥰🥰🥰
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bagaimana kau.."
"Begitu cepat sampai ke sini?" Elios langsung menyambung kalimat Dokter Lawrence yang tak selesai itu. "Mudah saja, aku hanya perlu melacak sihir yang ku tanam dalam tubuh Eleanor, dan.. Berteleportasi jika jaraknya memungkinkan."
"Huh! Trik murahan," cibir Abercio.
Elios tak menanggapinya, alih-alih, ia mengambil beberapa langkah mendekati orang-orang yang terus saja membawa Eleanor menjauh darinya.
Dari tempatnya berdiri, terlihat si Penyihir Sydshire yang menyebalkan itu dengan sigap mengambil langkah maju menghalau pandangannya yang tertuju pada gadis yang tertidur di punggung si Dokter muda.
Elios mengepalkan tangan tak suka.
Pertama, ia tak suka melihat Eleanornya berada dalam gendongan orang lain walau ia tau jiwa di dalam sana bukanlah pemilik asli dari raga itu.
Kedua, tak ada yang boleh menghalanginya untuk memandangi Eleanor. Tidak ada.
Dengan wajah pongah, Elios menatap rendah kedua lelaki di depannya. Sebelah tangannya tak lepas dari gagang pedang yang siap dihunus kapan saja.
"Menyedihkan," lontarnya.
"Satu orang, masih belum benar-benar memulihkan sihirnya." Elios berujar sembari melirik Abercio yang beberapa jam sebelumnya nyaris kehabisan energi sihir ketika bertarung di manor Nona Callie.
"Sedangkan seorang lainnya," Elios tersenyum mengejek, "hanya bisa bermain dengan pisau bedahnya." Kali ini ia melirik Dokter Lawrence yang menatap dengan waspada di belakang sana.
"Tanpa dimulai pun, kita semua sudah tau bagaimana pertarungan ini akan berakhir, bukan?" Elios terkekeh sinis. Netra emasnya berkilauan di bawah sinar bulan, menatap tajam layaknya predator yang siap menerkam mangsanya.
"Pergilah. Bawa dia sejauh mungkin." Suara itu berasal dari Abercio yang mengambil sikap siaga, siap untuk bertarung.
Arion menatap punggung Abercio yang mencoba melindunginya dan Agatha dari tatapan merendah yang Elios layangkan.
"Tapi--"
"Tidak ada waktu lagi. Penyihir Sydshire lainnya akan segera tiba, dan mereka datang karena diriku. Karena itu ..." Abercio tak ingin mengatakan sesuatu yang terlalu mendramatisasi keadaan, sehingga untuk menutupinya, ia pun berdecak kesal. "Ck, aku tidak akan banyak bicara jadi jangan keras kepala, kau hanya akan menjadi beban kalau terus di sini. Pergilah sekarang."