10. Something Missed

17.2K 1.7K 23
                                        

Yuhuu.. update lagi nih ...

Akhirnya baru bisa up hari ini, bestiee😭

Btw cast Quentin ada di atas yaa

Oh iya, di part ini alurnya agak - agak membingungkan gitu ya.. tapi pasti bisa dimengerti kok. (Semoga🥲)

Sebelum baca, tekan bintangnya dulu yukks🥰

Komen 3 emot yg terakhir kalian pakai, kalau kalian nungguin Agatha up😄

Okeey cus langsung dibaca😊😊

Happy Reading 😊❤️



Ps : gambar hanya pemanis yaa guys🥰






***

Agatha baru saja menaruh kotak berisi alat - alat pertolongan pertama yang ditinggalkan Elios begitu saja di atas tempat tidurnya tadi, ke atas meja rias yang dipercantik dengan aneka jenis mawar berwarna - warni dalam satu vas.

Mengambil duduk pada kursi putih di meja tersebut, Agatha meringis perih kala merasakan sakit pada lukanya yang telah diperban oleh Elios beberapa saat lalu. Padahal hanya dipakai berjalan beberapa langkah saja, namun perih di area lukanya itu tetap saja terasa.

"Memangnya tadi aku nginjek ranting apaan ya?" gumamnya sembari memijat pelan kakinya yang terasa kram. Jari - jari kakinya yang tak ditutupi perban bahkan terlihat membiru, entah karena apa. "Mungkin efek obat yang Elios kasih tadi," ujar Agatha yang masih berusaha untuk berpikir positif.

Menyudahi pijatannya pada kaki yang kram, Agatha beralih melirik pada cermin antik di depannya, dan ... ia kembali terkesima dengan paras elok milik Eleanor. Meskipun terlihat pucat, namun setidaknya bibir merah alami gadis itu dapat menyelamatkan wajah pucatnya. Dan jangan lupakan freckles samar yang ada di pipi dan hidung gadis itu yang membuat wajah Eleanor semakin terlihat hidup.

Ah, ngomong - ngomong soal freckles, sepertinya hanya bagian itu lah yang menjadi kesamaan antara wajah Agatha dengan wajah Eleanor. Ya, Agatha di kehidupannya dulu juga memiliki bintik-bintik kecoklatan yang membuatnya dijauhi oleh anak - anak panti saat ia masih kecil dan kulitnya masih terlihat putih.

Namun ketika beranjak remaja, ia berhasil menyamarkan noda kecoklatan itu dengan terus - terusan bermain di bawah terik matahari agar kulitnya terbakar dan berubah menjadi sawo matang.

"Padahal tidak perlu disembunyikan begitu. Freckles kamu bagus kok, Agatha, saya bahkan suka melihatnya."

Mengingat ucapan seseorang mengenai bercak di wajahnya, membuat Agatha tanpa sadar tersipu sendiri di depan meja rias itu. Dengan kedua tangan, Agatha menutup wajahnya yang memerah akibat teringat dengan suatu momen dimana ia mendapat pujian dari seseorang yang disukainya.

Ketika dirasa wajahnya telah membaik, gadis itu kembali melirik kaca, dan alangkah terkejutnya ia kala mendapati wajah yang tengah ia pikirkan juga berada di cermin tersebut.

"Pak Arion?" gumam Agatha tak percaya. Ia menepuk pipinya sekali untuk menyadarkannya dari halusinasi, namun hal itu tidak membuahkan hasil. Yang ada, bayangan dosen pembimbingnya itu malah semakin mendekat pada pantulannya di cermin tersebut hingga Agatha dapat melihat warna mata Arion yang berbeda dari biasanya.

 Yang ada, bayangan dosen pembimbingnya itu malah semakin mendekat pada pantulannya di cermin tersebut hingga Agatha dapat melihat warna mata Arion yang berbeda dari biasanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Please, Take Me Home!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang