Agatha adalah seorang gadis 21 tahun yang baru saja menyelesaikan studinya di sebuah Universitas ternama sebagai lulusan terbaik.
Namun, menjadi lulusan terbaik dengan IPK sempurna nyatanya tak dapat membuat hidupnya yang adalah seorang yatim piatu...
Yuhuu, karena chapter unplanned Plan ini emang panjang banget, jadinya aku bagi tiga part ya gessya🤍
Btw aku udah baca komen-komen kalian di part-part sebelumnya, dan yg bikin aku terheran-heran adalah, kalian ternyata banyak yg ngeship Eleanor ama Abercio🤔
Emang Quentin kenapa? Kurang cakep? Kurang handsome? Atau kurang ganteng?
Eh
Pokoknya.. kasih tau author dong kenapa kalian lebih milih Aa Cio dibanding Aa Tintin😃
Udah?
Kalo gitu selamat membacaaa🤍🤍🤍
Easy guys, pemeran utama untuk cowoknya emang bakalan plot twist hehe
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Lorong rumah sakit di lantai tujuh yang sepi tanpa lalu-lalang orang-orang itu bergema saat pria dengan setelan jas formal berwarna krem melangkah melewatinya. Bunyi pertemuan lantai vinyl dengan dasar pantofel coklat tua milik pria itu terdengar begitu jelas di sepanjang lorong dengan pintu-pintu kamar rawat inap kelas atas.
Berhenti tepat di depan pintu dengan angka 7010, pria dengan tinggi nyaris 190 sentimeter itu lantas memperbaiki penampilannya yang sebenarnya sudah sangat rapi. Dihirupnya dua puluh dua kuntum bunga mawar merah yang dibawanya dalam satu buket salmon pink yang diikat dengan pita merah, sebelum kemudian memberanikan diri untuk membuka pintu kayu berkualitas tinggi di depannya.
Saat hendak menyapa sosok yang tengah terbaring nyenyak di brankar itu, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Membuatnya harus mengurungkan niat untuk menyapa perempuan yang sampai saat ini masih harus terhubung dengan alat-alat bantu yang membuatnya dapat bertahan hidup sejauh ini.
Nyonya Besar is calling~
Ring~
Ring~
Ring~
Tut!
"Halo, Mah?" Setelah menimbang sesaat, pria itu akhirnya memilih untuk mengangkat panggilan yang ia yakin akan membuatnya pening itu.
"Halo Arion, anak mama yang kayaknya udah lupa kalau punya rumah, kamu apa kabar? Udah move on dari mantan mahasiswi kamu itu, kan?"
Pria itu, Arion, menghela napas lelah atas sarkasme yang dilontarkan ibunya itu. "Kalau Mama nggak ada hal penting yang mau disampein, Arion tutup ya," ucapnya setengah mengancam.
"Arion! Kamu gak capek apa, nungguin perempuan itu--"