3. How To Survive

25.3K 2.3K 31
                                        

A/n

Aku saranin, kalian putar musik yang ada di multimedia deh, soalnya musiknya enak, dan masuk gitu dengan ceritanya. Hehe.

Yaudah, selamat membacaa..
Terima kasih sudah mau mampir dan nge vote cerita ini yaa☺️








***

Agatha pasti sudah gila. Ya, dia gila. Karena jika masih waras, bagaimana mungkin ia bisa melihat wajah bidadari cantik saat ia sedang berkaca seperti sekarang? Ataukah ini hanyalah mimpi? Tapi ... sudah lebih dari lima kali ia mencubit pipinya sendiri hingga merah seperti tomat, namun ia tidak bangun - bangun juga.

Ini sudah hari ke dua ia berada di dunia asing yang Agatha sebut sebagai dunia novel, dan ia belum juga terbangun dari mimpi konyolnya. Jika sudah seperti ini ... Bagaimana ia bisa meyakinkan diri bahwa ini semua hanyalah mimpi? Ini nyata! Semua yang ada di depan matanya benar - benar nyata! Namun logikanya masih saja mengelak dan mengatakan bahwa semua ini hanyalah mimpi, dan ia akan terbangun sebentar lagi.

Oh, Agatha, malang sekali nasibmu. Di kehidupan sebelumnya, kau adalah seorang yatim piatu yang tidak memiliki apapun kecuali IQ diatas rata - rata. Lalu sekarang, ketika kau memiliki segalanya sebagai seorang Eleanor Rossemarry, kau malah sudah ditakdirkan untuk mati mengenaskan di akhir cerita.

"Sial," umpat Agatha tanpa suara, mengakhiri lamunannya terhadap nasibnya sendiri.

Gadis itu kembali melirik bayangannya pada kaca besar di depan wajah. Dan untuk kesekian kalinya, ia berdecak kagum dengan visual Eleanor Rossemarry. Gadis ini sangatlah cantik, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mulai dari rambut halus nan panjang berwarna hitam pekat, bentuk wajah oval yang simetris, alis tebal yang terukir alami, netra biru menenangkan, namun juga terlihat kejam disaat yang bersamaan, hidung mancung, bibir merah alami yang tidak kering seperti milik Agatha dulu, sedikit freckles pada pipinya yang terlampau putih, dan jangan lupakan dagu terbelah yang terukir sempurna di wajah tanpa celah itu.

Oh, Agatha bahkan yakin, jika ia terlahir sebagai laki - laki, ia pasti akan bertekuk lutut pada sosok Eleanor ini. Namun sayang, tabiat buruk Eleanor Rossemarry yang terkenal hingga ke seluruh penjuru kerajaan, membuat gadis itu ditakuti dan sekaligus dicemooh oleh orang - orang.

Agatha pun juga akan begitu. Ia sudah bilang bukan? Kalau ia sangat membenci tokoh Eleanor ini? Namun sialnya, ia malah terlahir kembali sebagai sosok yang sangat ia benci. Mungkin ini yang dinamakan karma, dan menjadi pelajaran juga, untuk tidak terlalu membenci sesuatu. Karena hasilnya yaa, bisa saja akan seperti Agatha ini.

"Hah~" desah Agatha, mencoba menyingkirkan perasaan berat dalam dadanya yang masih tidak mau menerima keadaannya sekarang.

"Ada apa, nona?" tanya Vera, pelayan pribadi Eleanor yang baru Ia ketahui namanya pagi tadi.

"Tidak apa - apa," jawabnya lesu. "Sampai kapan aku harus terus beristirahat di sini, Vera?" tanya Gadis itu akhirnya.

"Tabib yang memeriksa anda kemarin, mengatakan, anda harus beristirahat selama dua hari penuh, nona. Itu artinya, anda baru boleh beraktivitas seperti biasa, sehari lagi," jelas Vera.

Ngomong - ngomong soal kemarin, Agatha baru tahu kalau Eleanor alias dirinya sendiri sudah tak sadarkan diri selama satu minggu akibat terjatuh dari kuda. Agatha ingat bagian itu, dalam novel, Eleanor terjatuh karena ia mengendarai kudanya terlalu cepat akibat termakan api cemburu saat melihat Isabelle dan Putra Mahkota sedang berjalan bersama sambil menggiring kuda mereka masing - masing.

Andai saja Agatha tidak menempati tubuh Eleanor sekarang, mungkin ia akan tertawa karena nasib yang menimpa tokoh antagonis itu. Namun apalah daya jika yang tertimpa nasib itu kini adalah dirinya sendiri. Alih - alih tertawa, yang ada ia malah kesakitan setengah mati. Terutama di bagian kepala.

Please, Take Me Home!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang