31. |Masih Sama|

959 114 26
                                        

All We Need Just Heal》

Masih Sama

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■

"Assalamu'alaikum, selamat pagi, Bu."

Mahesa mengetuk tiga kali pintu ruang bimbingan konseling. Ruangan yang dilabeli mengerikan. Ruangan tempatnya dihakimi atas tuduhan yang tidak mendasar. Namun, hari ini ia hanya memenuhi panggilan dari Miss Riana, wali kelasnya yang baru dapat hadir setelah cuti melahirkan.

Ini adalah hari pertama Mahesa kembali ke sekolah setelah masa detensinya berakhir. Semalam ia mendapatkan pesan dari wali kelasnya untuk langsung menemui di ruang bimbingan konseling setelah bel jam pelajaran ketiga berakhir. Mungkin, Miss Riana menghindari keramaian, agar Mahesa nyaman berbincang dengannya.

Tak lama menunggu, pintu ruangan terbuka. Wanita mengenakan kemeja putih dengan motif hijau muda dan hijab berwarna serupa menyapanya dengan ramah.

"Wa'alaikumussalam, masuk, Nak. Sini."

Esa mengangguk dan mengekori wanita itu masuk ke dalam ruangan. Tak lupa menutup pintunya.

Ruangan yang sama, namun dengan suasana yang berbeda. Terasa lebih hangat. Tidak ada teriakan. Tidak ada tatapan mengintimidasi. Hanya ada dirinya dan seorang wanita dewasa yang cantik jelita. Serupa hatinya.

"Duduk, Sa," Miss Riana duduk di hadapan Esa. "Nih coba, suami Miss baru pulang dari belanda, bawa oleh-oleh susu rasa blueberry segar banget," tawarnya seraya meletakkan susu ke hadapan Esa.

"Terima kasih, Miss," sahutnya ramah.

“Jadi, apa yang bisa Miss dengar hari ini?”

Mahesa mengangkat pandang menatap wanita muda di hadapannya. “Soal?”

Riana menggedikan bahu. “Apa saja yang Miss tidak tahu selama cuti dan menurut kamu perlu diceritakan.”

Mahesa menghela napas. Sudah menebak arah pembicaraan akan dibawa ke mana. “Miss percaya saya?”

“Selalu,” Riana menjawab tanpa ragu. “Seorang ibu akan lebih percaya pada anaknya. So? What’s going on?”

“Miss sudah dengar dari Miss Julia, kalau ada siswa dari Altarada yang datang ke sini dengan kondisi wajah babak belur. Orang tuanya meminta pertanggungjawaban dengan membawa bukti video yang juga sudah sampai ke tangan Miss. Tapi, apa ada versi berbeda yang bisa Miss dengar dari kamu?” Riana kembali berbicara saat dirasa Mahesa hanya tertunduk dan tidak menjawab.

"Tidak ada, Miss."

"Okey, tapi kamu kenal dengan Ranafi sebelumnya?"

Mahesa menggeleng tanpa suara.

"Lalu video itu?"

"Miss, kalau saya dipanggil untuk tidak dipercayai, bukankah saya dipanggil hanya untuk dihukum? dan bukannya saya sudah menerima hukuman itu?"

Riana mendesah tertahan. Tidak dapat dipungkiri, anak lelaki di hadapannya memang sangat tertutup. Benar apa yang dikatakan oleh rekannya bahwa sulit membela Mahesa karena anak itu hanya akan diam dan menerima hukuman. Tidak mau bercerita. Tidak sudi terbuka.

"Miss percaya, tapi kamu tetap harus menjelaskan bagaimana bisa ada video itu Mahesa."

"Apa yang mungkin akan berubah, Miss?" sahut Esa tenang. Tanpa terpancing sedikit pun.

"Saya sudah menjalani hukuman sampai selesai. Semua orang sudah melabeli saya berandalan karena memukuli orang."

"Itu maksud Miss, Mahesa," Riana menegakkan tubuhnya. Mencoba lebih dekat untuk mengamati ekspresi Mahesa.

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang