52. |Detak Konstan|

931 122 32
                                        

All We Need Just Heal》

Detak Konstan

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■

Ruang Bimbingan Konseling siang itu terasa lebih sempit dari biasanya. Pendingin ruangan menyala stabil, namun udara tetap terasa berat. Cahaya matahari masuk setengah tertahan dari tirai krem, membentuk garis-garis terang di lantai. Di dinding tergantung poster motivasi dan grafik perkembangan siswa, kontras dengan suasana tegang yang tidak mencerminkan ketenangan yang ingin dibangun ruangan itu. Kursi-kursi tertata rapi, meja konselor bersih, tapi keheningan di dalamnya bukan keheningan nyaman, melainkan jeda sebelum benturan. Setiap bunyi kecil, dari detik jam dinding hingga gesekan kertas, terdengar berlipat keras.

Mahesa duduk di sofa sisi kiri dengan punggung tegak dan tangan bertumpu di lutut. Kepalanya sedikit menunduk, bukan karena takut, melainkan seperti seseorang yang sedang menahan gelombang emosi agar tetap terkunci di dalam. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk ukuran siswa yang sedang menunggu keputusan besar tentang nasibnya di sekolah. Rahangnya sesekali mengeras, napasnya teratur, matanya fokus ke satu titik kosong di lantai. Ia tidak gelisah, tidak juga mencari pembelaan, hanya diam dengan kendali diri yang kaku, seperti atlet di garis start yang tahu bahwa bunyi penentu akan segera terdengar.

Coach Carter melangkah mendekat tanpa suara berlebihan, lalu duduk di samping Mahesa. Ia tidak langsung bicara. Tangannya lebih dulu mendarat hangat di pundak anak itu, tepukan pelan, gestur sederhana yang lebih terasa seperti jangkar daripada sekadar dukungan. Sentuhan itu hangat. Seperti cara seorang pelatih menenangkan atlet sebelum final dimulai. Mahesa tidak menoleh, namun bahunya yang semula kaku turun sedikit, cukup untuk menunjukkan bahwa pesan itu sampai.

“It’s okay,” kata Coach Carter pelan, suaranya rendah dan terkendali. “We follow the process. You’re not alone.”

Tepukannya berhenti, tapi tangannya tetap di sana sesaat. “All will be alright. We handle it step by step.” Nada suaranya sangat tenang dan mampu menenangkan. Bukan mengatakan tidak ada risiko, melainkan memastikan bahwa apa pun hasilnya, Mahesa tidak akan menghadapinya sendirian.

“Thank you, Coach,” sahut Mahesa dengan senyum tipis di wajahnya.

“Mahesa, minum dulu,” Riana, wali kelas terbaik yang Tuhan berikan untuk Mahesa. Wanita yang baru saja dikaruniai anak lelaki. Wanita dengan hati dan tutur kata yang lembut serta keibuan.

Ia salah satu orang yang memberikan kepercayaan penuh pada Mahesa pada tiap kasus yang menimpanya. Sosok yang akan selalu membela Mahesa karena kebenarannya. Kadang Mahesa berpikir, mungkin jika ibunya masih hidup, akan seperti Riana lah perangainya.

Mahesa mengangguk. Tersenyum pada Riana dan menerima teh hangat yang diberikan wanita itu. “Terima kasih, Miss.”

“Di minum, Sa. Jangan dipegangin aja,” tegurnya sembari mendorong tangan Mahesa pelan.

“Miss tau, pasti kamu takut. But, its oke. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan selama kamu tidak melakukannya.”

“The truth will always find its way home.”

Miss Riana menganggukan kepala mendengar kalimat yang diucapkan Coach Carter.

Pintu ruang Bimbingan Konseling Gardacitya International School terbuka dengan dorongan tegas. Bunyi engselnya pendek, namun cukup untuk memecah sunyi yang sejak tadi menekan ruangan itu seperti beban tak terlihat.

Mr. Loan masuk tanpa senyum. Langkahnya cepat, rapi dan penuh otoritas. Ia mengenakan kemeja biru dengan balutan jas hitam dan dasi yang tampak pas di tubuhnya. Tatapannya langsung menyapu seluruh ruangan, menilai, mengukur, menghakimi bahkan sebelum satu kata pun diucapkan. Ia duduk di bangku sudut meja, berhadapan dengan Mahesa.

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang