《All We Need Just Heal》
● Di Batas Percabangan ●
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■
Langit berwarna kemerahan saat surya menuju ke peraduan. Rintik gerimis yang terbias oleh kilau sisa cahaya sore membentuk lengkungan pelangi yang indah dipandang. Aroma petrichor menguar terbawa angin sejuk dengan suara gesekan daun kering yang gugur di jalanan.
Bian tiba di parkiran rumah sakit tepat saat gerimis mulai turun membasahi tanah kering. Lelaki dengan postur tubuh tinggi tegap itu memarkirkan motornya di tempat teduh. Tepat di bawah pohon beringin yang rindang di seberang gerai kopi. Wangi biji kopi yang tersiram panasnya air menguar, terhidu hidung bangirnya walaupun tertutup buff berwarna hitam.
Remaja itu membelokan letak kaca spionnya. Ia merapikan rambut yang acak-acakan saat helm sudah terbuka. Jaket yang melekat di tubuhnya ia buka dan ia masukkan ke dalam jok motornya. Tak lupa tas biru berisi makanan titipan dari sang Ibu ia bawa. Bian berjalan meninggalkan parkiran dengan tas ransel yang tersampir di salah satu pundaknya. Tubuhnya masih berbalut seragam Gardacitya.
Pagi tadi, Bian dibuat kalut dengan Mahesa yang mendadak tidak ada kabar. Satu pun pesannya tidak terbalas dari kemarin malam. Kehadirannya pun tidak terlihat walaupun masa skorsing sudah selesai. Ia tidak tahu di mana sahabatnya berada. Bertanya pada Andaru pun tampak percuma. Sampai akhirnya satu pesan masuk dari Mahesa berhasil mengacaukan fokus belajarnya.
Sepanjang jalan menyusuri koridor rumah sakit, Bian merenungi banyak hal. Ia kerap berpikir, jika benar dunia memang tempat ketidakadilan, lantas mengapa kehidupannya selalu dilingkupi keberuntungan. Namun, jika ketidakadilan diciptakan sebagai bentuk hukuman, mengapa harus anak sebaik Mahesa yang mendapatkan. Dahulu, saat Bian datang ke panti, Mahesa si anak pendiam dan pemalu itu yang pertama kali mengulurkan tangannya pada Bian. Mahesa adalah orang pertama yang meminjamkan truk mainan kecil untuk menghentikan tangis Bian. Tidak ada satu keburukan pun yang terlihat selama Bian mengenal Mahesa dalam hidupnya. Bahkan, ketika Bian pergi meninggalkannya, anak itu dengan mudah memaafkan dan tidak menyimpan kekecewaan.
Rasa bersalah Bian bawa setiap harinya. Segala cara akan Bian lakukan demi menebus kesalahannya. Termasuk dengan memastikan kebahagiaan Mahesa. Menjadikannya bagian dari keluarga. Membela Mahesa dari segala ancaman yang ada di Jakarta adalah standar minimum Bian.
Paviliun Musdalifa kamar nomor 3, Bian melongokan pandang ke lapisan kaca. Terlihat televisi menyala. Ia langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk atau memberikan salam.
Suasana dingin terasa. Bau aroma karbol menguar. Suara televisi menampilkan acara kuis interaktif terdengar ramai di telinga Bian. Kontras dengan keadaan kamar yang sunyi. Bian melangkahkan kaki lebih masuk ke dalam. Ia melihat Mahesa sedang tertidur dengan selimut menutupi tubuhnya sampai ke dada. Wajah pucatnya terlelap damai.
Bian menuju rak di samping ranjang. Menata semua makanan yang ia bawa. Lalu menarik kursi dan duduk di sisi ranjang Mahesa. Ia mengeluarkan ponselnya, mengecilkan volume dan mulai bermain game sembari menunggu orang yang dijenguknya terbangun dari tidur.
Sampai ketukan pintu terdengar, masuk ke dalam seorang perawat mendampingi dokter untuk memeriksa kondisi sahabatnya. Bian bangkit dari duduk dan menyimpan ponselnya.
"Tidur ya," ucap wanita berhijab hijau tosca itu sembari mengecek botol infus Mahesa.
"Iya, nyenyak banget, Sus," sahut Bian menanggapi.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
Teen FictionMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
