《All We Need Just Heal》
● Gulita ●
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■
Ruang detensi selalu terasa lebih sunyi dibanding ruang kelas mana pun di Gardacitya. Cahaya pagi yang masuk lewat jendela berdebu tampak redup, seperti ikut meredam segala riuh yang biasanya terdengar di lorong-lorong sekolah. Meja-meja kayu berjejer rapi, namun hanya satu yang terisi, Mahesa, duduk membungkuk dengan kepala terbenam di atas lipatan lengannya.
Sudah empat hari Mahesa menempati ruangan itu. Empat hari tanpa berada di ruang kelas. Tanpa latihan basket, tanpa suara bola memantul lantai, tanpa pujian yang ia biasa dapat dari guru mata pelajaran. Sudah empat hari pula ia dipandang seperti seorang penjahat yang menjijikan. Sejak isu itu meledak dan fotonya tersebar di mana-mana.
Dan hari ini, masih seperti hari-hari sebelumnya, Mahesa hanya menunggu hasil penyelidikan sekolah. Menunggu kebenaran muncul ke permukaan. Menunggu semua ini selesai entah dengan cara apa. Ia tidak berambisi untuk membersihkan namanya. Ia hanya ingin membuktikan bahwa tuduhan orang-orang tidak benar tentang dirinya yang dibesarkan di lingkungan liar.
Pintu ruang detensi terbuka perlahan. Bunyi engselnya membuat Mahesa sedikit bergerak, tapi tidak cukup untuk membuatnya mengangkat kepala. Tenaganya sudah tidak ada.
“Mahesa.”
Suara itu familiar. Hangat. Tegas. Coach melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia memandangi punggung Mahesa yang tidak bergerak. Ada helaan napas pelan darinya, seperti seorang ayah yang baru menemukan anaknya tidur sendirian di ruang gelap. Perlahan, Coach Carter meletakkan tangan besarnya di bahu Mahesa. Sentuhannya lembut, tapi cukup untuk membuat Mahesa tersentak kecil dan langsung menegakkan tubuhnya.
“Sorry Coach…” Mahesa mengusap wajahnya cepat, berusaha menyamarkan wajah lelahnya. “Saya tidak dengar Coach datang.”
Coach tersenyum tipis. “It’s oke, Son.”
Mahesa hanya mengangguk pelan. Matanya tampak sedikit merah, wajahnya pucat dengan kantung mata menghitam. Coach mengamati semuanya tanpa berkata apa pun untuk beberapa detik, sebelum akhirnya ia meletakkan sebuah tas makanan di atas meja.
“Kamu sudah makan?” tanya Coach, nada suaranya lembut namun penuh perhatian.
Mahesa refleks mengangguk kecil. “Sudah, Coach. Tadi.”
Coach menaikkan satu alis. “Really?”
Mahesa tersenyum tipis, senyum yang tidak benar-benar sampai ke mata. “Iya, Coach.”
“That’s the answer kids give when they haven’t eaten anything all day.” Coach duduk di kursi sebelahnya. Ia mendorong tas makanan itu lebih dekat. “I brought you a sandwich and avocado juice. You should at least drink the juice.”
Mahesa menelan saliva. Perutnya memang masih terasa mual, tapi ia tahu Coach tidak akan menerimanya kalau ia menolak mentah-mentah.
“Thank you, Coach,” Mahea mengambil kantung makanan yang diberikan Coach Carter. Ia menusuk kemasan jus dengan sedotan. Lalu meminumnya sedikit.
“Good,” jawab Coach, tersenyum lega.
Mahesa meminum setengah kotaknya. Coach hanya diam, menunggu. Tidak menekannya, tidak mendesaknya. Setelah beberapa menit, Coach menyilangkan tangan di dada dan berkata perlahan, “So… about this whole thing with Kanesti.”
Mahesa mengernyit sejenak, lalu menghela napasnya. Tatapannya kembali pada Coach Carter dengan senyuman seadanya. “Bukan masalah besar, Coach.”
“Ini masalah serius, Mahesa. Nama baikmu sedang dipertaruhkan,” Coach Carter sudah menegakkan tubuhnya, menghadap Mahesa. Tatapannya serius. “The whole school is buzzing. Students, teachers, even those who barely know you. They’re talking. A lot.”
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
Fiksi RemajaMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
