《All We Need Just Heal》
● Pola Yang Sama ●
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■
Jam dinding di sudut lapangan indoor Gardacitya tepat menunjuk pukul delapan ketika peluit Coach Carter menggema panjang. Suara itu memantul ke dinding-dinding tinggi, menyatu dengan bau khas lantai kayu yang baru dipel dan udara pagi yang masih dingin karena pendingin ruangan bekerja penuh. Matahari sudah naik, tapi sinarnya hanya masuk samar melalui jendela kaca besar di sisi timur. Tim sudah Bersiap dengan pakaian latihan mereka. Hari ini, dispensasi diberikan pada punggawa Gardacitya yang akan bertanding nanti sore dan membawa nama baik sekolah.
“Alright, gentlemen,” suara Coach Carter lantang, berat, dan tegas. “Today is not just practice. This is preparation. Sore nanti bukan main-main. I don’t want half energy, I don’t want excuses.”
Para pemain berdiri membentuk setengah lingkaran. Keringat belum membasahi wajah mereka, tapi ketegangan sudah terasa sejak peluit pertama. Mahesa berdiri paling depan, bahu tegap, mata fokus. Sebagai kapten tim, ia berdiri sedikit lebih lurus dari biasanya, seolah ingin memastikan semua orang merasakan keseriusan yang sama.
“Warm up. Lima menit,” lanjut Coach Carter. “Full body. Kalau masih ngantuk, lapangan ini bukan tempat tidur.”
Beberapa pemain terkekeh kecil, tapi langsung bergerak. Lari kecil mengelilingi lapangan dimulai. Sepatu berdecit halus di lantai. Napas mulai terdengar, ritmis dan cepat. Mahesa ikut berlari, langkahnya ringan. Hari ini tubuhnya cukup segar. Mungkin karena tidurnya cukup. Mungkin karena semangat pertandingan sore nanti. Ia merasa badannya seperti tidak membawa beban apa pun. Napasnya stabil, tidak tersengal, bahkan setelah dua putaran penuh.
Saat melakukan dynamic stretching, Mahesa merasakan otot-ototnya lentur dengan cara yang berbeda. Tidak kaku. Tidak ada rasa pegal sisa latihan kemarin. Ketika ia menunduk menyentuh ujung sepatu, tubuhnya mengikuti tanpa perlawanan. Tubuhnya sepenuhnya mendukung Mahesa untuk membawa cita-cita almarhum kakaknya.
“Napas ege, Sa. Nggak usah semangat-semangat banget,” bisik Dion di sebelahnya sambil menahan posisi lunges.
Mahesa hanya tertawa kecil menanggapi celotehan Dion.
Peluit kembali berbunyi.
“Ball handling!” Coach Carter berteriak. “Low, fast, control. Jangan cantik doang, efektif.”
Latihan dimulai dengan drill dasar, tapi tempo dinaikkan. Dribble rendah, crossover cepat, perubahan arah mendadak. Keringat mulai muncul di dahi pemain lain. Beberapa sudah mengusap leher, beberapa menarik napas lebih dalam. Mahesa justru merasa sebaliknya. Bola seperti menyatu dengan tangannya. Setiap pantulan terasa presisi. Ketika ia melakukan crossover cepat, tubuhnya bereaksi instan, tanpa jeda berpikir. Kakinya bergerak cepat, seolah tahu ke mana harus melangkah sebelum perintah dari otak selesai terbentuk.
Coach Carter memperhatikannya dari kejauhan.
“Good, Mahesa,” katanya. “That’s the pace. That’s what I want.”
Pujian itu membuat Mahesa mengangguk kecil, di dalam dirinya seperti ada dorongan untuk terus bergerak. Terus melakukan lebih. Drill berganti ke passing cepat. Bola berpindah tangan tanpa jeda. Kesalahan kecil langsung ditegur.
“Focus!” bentak Coach Carter. “This is morning, yes, but defense sore nanti nggak peduli jam berapa.”
Beberapa pemain mulai kehilangan ritme. Napas mereka lebih berat, langkah sedikit melambat. Javier bahkan sempat menekuk lututnya, mengusap paha. Mahesa tetap stabil. Bahkan saat drill dipercepat, ia tidak kehilangan akurasi. Operannya tajam, tepat sasaran. Saat harus sprint mengambil bola liar, ia bergerak lebih cepat dari biasanya. Hari ini penting. Ini pertandingan besar. Tubuhnya mungkin sedang berada di puncak performa.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
Teen FictionMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
