33. |Mencoba Berdamai|

1K 132 48
                                        

All We Need Just Heal》

Mencoba Berdamai

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■


Matahari sudah sepenuhnya kembali ke peraduan, berganti kilau lampu jalan yang menyala terang. Mahesa dan Bian sempat berhenti sebentar untuk sholat di masjid yang mereka lewati karena kebetulan Azan Maghrib sudah berkumandang. Bian tumbuh dalam ajaran agama yang sangat baik, sehingga menunda sholat tentu bukan kebiasaannya.

Mobil kembali melaju sampai tak terasa tiba di depan gerbang hitam tinggi menjulang. Gerbang terbuka, Bian membuka kaca, mengucapkan terima kasih pada Pak Ata yang membukanya. Teras rumahnya menyala terang, pintu utama pun terbuka lebar.

"Nah kan, wangi masakan chef Murni udah kecium," ujar Bian saat menginjakan kakinya di teras rumah.

"Assalamu'alaikum...."

"Wa'alaikumussalam, pulang juga akhirnya bujang-bujang," Murni datang menghampiri kedua anaknya.

Ia membiarkan tangannya disalimi, kemudian mengecup dahi kedua putranya. "Sudah sehat, sayang? habis sakit ya?" tanyanya sembari menangkup wajah Mahesa.

Mahesa mengangguk dengan seulas senyum yang merekah. "Alhamdulillah  udah sekolah 3 minggu, Umi," sahutnya.

"Alhamdulillah, ya udah ganti baju dulu," Murni mengusap basah di helai rambut Mahesa. "Bi, ajak ganti pakai baju kamu aja sana. Habis itu langsung turun, makan."

"Okay, yok, Sa."

"Ke atas ya, Mi," pamit Mahesa sopan.

Dua remaja itu akhirnya menaiki satu per satu anak tangga ke lantai dua. Ke kamar Bian. Begitu masuk, Mahesa langsung merebahkan tubuhnya.

"Kenapa?" tanya Bian cepat. "Pusing?"

"Capek."

"Mau mandi air anget aja?" tanya Bian lagi. Ia sedikir khawatir sebenarnya dengan Mahesa. Anak itu belum lama sembuh tapi sudah terlalu banyak berkegiatan.

Mahesa menggeleng. Ia lantas bangkit dari rebahnya dan mulai membuka kancing seragamnya. "Lo duluan sana."

"Iya, nanti gue nyalain air angetnya, kalau mau minum susu dulu ambil aja di kulkas ya."

"Iya."

"Tidur dulu bentar juga nggak apa-apa," Bian masih terus berbicara dan menatap Mahesa padahal ia sudah bertelanjang dada dengan handung tersampir di pundaknya.

Mahesa menghela napas. "Hari ini energi lo banyak banget buat ngomong, Bi."

Bian hanya tertawa dan tak menjawab lagi. Ia langsung masuk ke kamar mandi sembari bersenandung kecil melantunkan lagu favoritnya.

Mahesa kembali merebahkan tubuh. Ia menyalakan layar ponsel, melihat tanggalan dan wallpaper di sana. Entah, tiba-tiba rasa rindu menyeruak. Pramudya tersenyum lebar di foto itu sembari menggendongnya di punggung. Tangannya memegang erat piala turnamen basket junior tingkat provinsi. Rasanya, jika kakaknya itu masih ada, ia pasti akan sangat bangga. Kini Mahesa menjadi kapten di tim sekolahnya, namun tidak tahu harus berbagi bahagia dengan siapa.

Hingga kini, Mahesa tidak pernah terbiasa tanpa Pramudya. Malam-malam sepi penuh rindu sering kali membebatnya. Tapi ia sadar, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Pramudya sudah bahagia. Kakaknya sudah terbebas dari kesulitan yang seumur hidup memenjarakannya.

Sementara, beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Suara klik kecil terdengar. Wangi semerbak keluar lebih dulu sebelum Bian muncul dengan handuk putih menggantung di lehernya. Rambutnya yang hitam, yang biasanya rapi kalau keluar rumah, kini acak-acakan karena air. Butiran air masih jatuh dari ujung rambutnya, menetes nyaris tanpa suara ke lantai kamar.

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang