37. |Hanya Tamu|

1.2K 160 40
                                        

《All We Need Just Heal》

Hanya Tamu

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■


Andaru.

Anak itu berdiri dengan hoodie kelabu yang menempel di tubuhnya. Napasnya terengah. Pandangannya tampak bertanya-tanya dengan apa yang terjadi di depan. Mahesa terpgue. Kepalan tangan yang siap menghantam Darko kini turun perlahan. Ada kilatan panik yang muncul di wajah tenangnya.

Lonceng pertandingan berbunyi keras. Pertandingan dihentikan. Mahesa bangkit dan membiarkan Darko lepas dari kukungannya.

“Sa!” suara Andaru terdengar pecah.

Anak itu maju, mendekat ke ring. Berniat menghampiri Mahesa yang masih berdiri di sana. Tapi, dua orang bertubuh besar langsung menghadangnya.

“Heh, bocah! Nggak boleh masuk!”

“Gue harus ketemu adek gue! Lepas, Anjing!”

Andaru berusaha melepaskan diri dari cengkeraman kedua pria itu di lengannya. Tenaganya cukup membuat penjaga kewalahan. Sampai akhirnya tubuhnya terdorong ke belakang. Andaru terjatuh duduk. Namun, ia segera bangkit dan kembali memaksa mendekat.

Penjaga habis kesabaran. Salah seorang dari mereka melayangkan pukulan ke wajah Andaru. Anak itu terpelanting. Beruntung masih ada dinding yang menopangnya. Ia mengusap pipi kirinya yang berdenyut sakit sembari sesekali meringis.

Dan itu cukup membuat Mahesa tersadar sepenuhnya. Ia lantas turun dari ring. Langkah cepatnya menghampiri Andaru.

“Jangan sentuh,” Mahesa menahan kepalan tangan yang siap menghantam Andaru dan melemparnya. “Gue yang urus.”

“Tunggu di sini,” suara rendahnya tegas. Andaru hanya mengangguk. Tidak berani membantah.

Mahesa berjalan ke sisi ruangan, menuju sofa tua tempat ia meletakkan barang-barangnya. Ada Yusril di sana yang menatapnya heran. Mahesa tak ambil pusing. Ia langsung memakai kembali jaketnya, menyambar botol air mineral yang ada dan menatap Yusril sebentar.

“Tolong aturin buat tanding ulang, Bang. Sorry gue duluan,” ia menepuk bahu Yusril dan berlalu dari sana setelah lelaki itu menganggukan kepala tanpa banyak bertanya.

“Ayo,” Mahesa menarik lengan Andaru.

Andaru menurut. Keduanya keluar dari ruangan penuh asap rokok itu, melalui lorong sempit dengan lampu kedap-kedip dan cat dinding terkelupas, hingga mencapai pintu belakang gedung tua.

Begitu pintu logam itu didorong, udara malam langsung menyeruak. Hujan tipis turun, gerimis yang hanya sekadar menyentuh kulit namun tetap terasa dingin. Bau tanah basah menusuk hidung.

Mahesa duduk di tangga beton berlumut. Ia membuka botol air dan berkumur. Air bercampur darah ia keluarkan. Ia ulangi dua kali sampai warna merah itu memudar dan rasa besi di lidahnya berkurang.

Andaru berdiri di depannya, berkacak pinggang. Hoodie yang ia kenakan basah di ujung lengan. Wajahnya cemas tapi ekspresinya penuh amarah.

“Bagus lo kayak gitu?”

Mahesa mendongak, mendecih sinis. “Lo ngapain ke sini?”

“Lo yang ngapain ke sini.”

“Nggak usah sok peduli.”

“Lo mau mati?” Andaru mendengus. “Lo emang nggak ada kapoknya ya. Suka banget cari gara-gara.”

“Bukan urusan lo.”

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang