《All We Need Just Heal》
● Baru Dalam Belenggu ●
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■
Pagi itu, udara di dapur rumah keluarga Mahaka terasa sejuk dan tenang. Cahaya matahari baru saja menyusup lembut melalui kisi-kisi jendela, memantulkan warna keemasan di atas meja kayu yang penuh bahan masakan. Di sana, Mahaka berdiri dengan celemek hijau muda yang sedikit kebesaran, sibuk mengiris jagung muda dan daun kemangi. Di atas kompor, panci besar berisi beras yang dimasak bersama labu kuning dan ubi sudah mulai mendidih perlahan, mengeluarkan aroma gurih khas bubur m=Manado yang ia inginkan.
Sambil mengaduk pelan, Mahaka menatap ke arah luar jendela. Di halaman, embun masih menempel di rumput. Ada sesuatu dalam udara pagi itu yang membuatnya ingin diam dan berpikir. Malam tadi, ia dan Andaru sempat bertengkar. Kata-kata mereka tajam, bahkan mungkin lebih menusuk dari yang seharusnya diucapkan antar saudara. Mahaka tahu, Andaru terluka melalui tangisnya semalam. Namun, ia juga tidak mau masalah berlarut terlalu lama. Ia tidak ingin Andaru, adik manisnya, menjadi jahat hanya karena perasaan takut perhatiannya akan terbagi dengan Mahesa.
Suara langkah kaki terdengar dari arah koridor. Bi Martha, asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumah itu, muncul dengan rambut yang terurai sebahu dan senyum hangat di wajahnya. “Lho, Bang? tumben masak pagi-pagi begini? Bukannya bangunin Bibi aja,” ujarnya sambil menatap panci besar di atas kompor.
Mahaka menoleh dan tersenyum kecil. “Sengaja, Bi. Emang lagi pengin masakin anak-anak bubur Manado aja. Udah lama banget nggak masak ini, dulu Andaru suka banget tiap dibuatin.”
Bi Martha terkekeh kecil sambil menggulung lengan bajunya. “Ingat banget. Dulu waktu kecil, tiap minggu pagi mesti minta bubur Manado, tapi dia maunya yang pedas. Dikasih manis sedikit pasti protes,” Ia mengambil wajan dan mulai membantu Mahaka menumis ikan cakalang yang sudah disuwir halur. “Esa juga suka bubur Manado?”
Pertanyaan itu terlontar begitu ringan, tapi membuat Mahaka seketika berhenti mengaduk. Ia terpaku sejenak, lalu menatap ke dasar panci yang mendidih pelan. Uap panas mengepul ke wajahnya, seolah membawa bayangan masa lalu yang samar-samar muncul di benaknya.
“Esa, ya...” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Ia mencoba mengingat — tapi yang muncul bukan kenangan tentang makanan favorit, melainkan tentang ruangan besar berlantai semen dingin, meja panjang dari kayu tua dan barisan anak-anak kecil yang duduk diam menunggu giliran makanan diambilkan ke piring mereka.
Di panti asuhan dulu, tidak ada yang namanya makanan kesukaan. Setiap hari sudah ada menu yang ditentukan: nasi putih dengan sayur bening dan ikan, kadang telur rebus, kadang bubur dengan toping seadanya. Kak Amel, pengurus panti yang dulu bertugas memasak selalu menyajikan menu terenak yang ia bisa buat sesuai dengan dana yang ada. Hanya kadang, makan besar dengan menu beragam beberapa kali terjadi ketika ada donatur yang sedang mengadakan perayaan di sana. Tak ada yang bisa memilih. Tak ada yang bisa menolak kecuali bagi mereka penderita alergi. Kita hanya makan untuk kenyang, bukan untuk menikmati.
Mahaka menelan ludahnya pelan. “Seingat aku...” katanya akhirnya, suaranya serak. “Kami nggak pernah punya makanan favorit. Di panti dulu... semua makanannya sama. Kami cuma makan apa yang ada.”
Bi Martha terdiam, ekspresinya berubah lembut. Ia menatap Mahaka yang kini tampak tidak seceria beberapa menit lalu. Bi Martha merasa salah memberikan pertanyaan.
“Cuma, dulu tiap ada agenda makan besar, Esa suka banget kalau ada lauk udang,” sambung Mahaka sembari melanjutkan aktivitasnya. Berusaha mengalihkan getir dari tiap kenangan pahitnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
Teen FictionMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
