34. |Kita Tidak Pernah Tahu|

1K 115 20
                                        

All We Need Just Heal》

Kita Tidak Pernah Tahu ●

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■

Jam pertama di hari Rabu bukan sekadar pelajaran. Ia adalah ritus. Upacara tanpa bendera yang semua orang akan ikuti dengan tulang belakang yang lebih tegak dari biasanya, suara menelan yang lebih sering dan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat. Di XI IPA 3, semua orang tahu apa artinya. Pelajaran Fisika dengan Pak Shin.

Kelas sudah rapi bahkan sebelum bel berbunyi. Bukan karena rajin. Melainkan karena naluri bertahan hidup.

Di sudut baris ketiga dekat jendela, Bian menyandarkan bahu ke sandaran kursi, menatap pintu seolah pintu itu bisa mendadak meledak. Di sebelahnya, Mahesa duduk tenang. Buku terbuka di halaman getaran dan gelombang, pena hitam terselip di sela jari. Tidak tegang. Tidak gelisah. Namun ada diam yang kosong dan ada diam yang justru penuh. Mahesa termasuk yang kedua.

“Jam sembilan lewat empat puluh, Sa,” gumam Bian. “Tinggal nunggu bunyi sepatu malaikat pencabut nyawa.”

Mahesa mengangkat alis tipis. “Lebay.”

Bian mendengus. “lo lihat tuh,” telunjuknya menunjuk bingkai foto presiden yang terpampang di depan kelas. "Presiden aja nggak senyum gara gara takut sama dia."

Mahesa hanya menggeleng melihat tingkah Bian. Sampai suara langkah sepatu pantofel hitam yang sudah terlalu sering mencetak ritme ketegangan itu berhenti tepat di depan kelas. Semua bangkit serempak, refleks yang bahkan tidak butuh komando.

“Selamat pagi, Pak!”

Tidak ada jawaban. Hanya suara buku diletakkan di meja. Sekali. Tapi cukup membuat udara memadat.

Pak Shin. Lima puluh enam tahun, bekerja karena hobinya untuk mengajar. Ia adalah guru senior Gardacitya yang terkenal seantero karena kekejamannya. Rambut seputih kapur yang ia gunakan di papan, tersisir rapi dengan model yang sama selama ia bekerja. Jas cokelat pudar yang setia dipakai sejak entah generasi kelulusan mana dan tatapan yang seolah bisa mengukur kelemahan sekaligus potensi seseorang dalam sekali lihat.

“Duduk,” ucapnya singkat.

Tidak ada pembuka, tidak ada humor pagi, tidak ada tanya kabar. Fisika dimulai sebelum manusia sempat merasa menjadi manusia.

“Gerak harmonik sederhana,” katanya sembari menyetel materi yang ia siapkan pada layar TV kelas. “Siapa yang bisa sebutkan tiga komponen utama sistem pegas ideal?”

Hening.

Dua puluh lima kepala menunduk, pura-pura membaca. Pikiran mereka meneriakkan nama yang sama.

Dan sang guru bahkan tidak repot menunggu.

“Mahesa.”

Serempak, satu kelas menoleh. Bukan karena terkejut, tapi karena sudah hafal alurnya. Jika tidak Aisel perempuan cantik keturunan pakistan yang hari ini tidak masuk, pasti Mahesa yang menjadi pilihan lain. Anak baru yang dengan mudah mendapatkan hati lelaki paruh baya itu.

Mahesa tidak mengangkat tangan. Ia bahkan tidak memposisikan diri seolah siap. Ia hanya duduk, diam, sampai namanya dipanggil, lalu berdiri. Bukan seperti orang yang ingin dilihat, melainkan orang yang tidak bisa dihindari.

“Tiga komponen utamanya massa, konstanta pegas, sama gaya pemulih yang sesuai Hukum Hooke, yaitu berbanding lurus dengan simpangan dan arahnya berlawanan,” jawabnya. Langsung. Padat. Tanpa intonasi dramatis. Seperti buku yang membacakan isinya sendiri.

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang