《All We Need Just Heal》
● Garda Terdepan ●
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■
Andaru mematikan mesin mobil ketika sampai di parkiran Gardacitya. Hari sudah pukul enam lebih tiga puluh. Mereka nyaris saja datang terlambat karena Mahesa yang terlambat bangun. Padahal biasanya anak itu yang bangun paling pagi dan berangkat lebih dulu.
“Taruh dashboard.”
Andaru menoleh saat Mahesa meletakkan satu bungkus rokok ke pahanya. Ia lupa belum membereskan satu bungkus rokok miliknya yang tergeletak begitu saja di kursi penumpang. Andaru menghela napas. Meraihnya cepat dan memasukan ke dalam dashboard mobil.
“Cepet turun.”
Mereka keluar dari mobil bersamaan. Andaru berjalan setelah memastikan mobilnya terkunci. Untuk pertama kalinya, ia datang berdua dengan Mahesa. Berjalan memasuki selasar bersisian dengan anak itu.
Suasana pagi ini tampak ramai. Tidak biasanya Gardacitya seperti ini. Andaru mengernyit ketika melintas di selasar, beberapa siswa melihat ke arah mereka. Ada yang bergerombol mengamati. Si pemberani menunjuk menggunakan dagunya. Si pengecut berbisik menutup setengah wajah menggunakan buku, bergunjing tentang mereka.
Andaru memperlambat langkahnya. Membiarkan Mahesa berjalan lebih dulu. Saat itu, baru ia sadar, mereka memperhatikan Mahesa.
“Ngapain lo bisik-bisik gitu?”
Andaru menarik kerah seragam anak lelaki di hadapannya yang sedang bersandar di tembok. Wajahnya mengeras. Menantang dengan berani.
Sementara, anak-anak itu pergi setelah cekalan di kerah terlepas.
Andaru memijit pelipisnya, mencoba menetralkan emosi yang sempat meledak. Ia menoleh ke arah Mahesa, anak itu masih berjalan lurus tanpa menoleh. Tatapan-tatapan aneh itu semakin banyak ketika mereka melewati selasar menuju gedung utama.
“Sa.”
Tidak ada respon. Mahesa justru mempercepat langkahnya. Di persimpangan lorong, seorang siswi yang lewat nyaris menabrak Mahesa. Begitu melihat wajahnya, mata siswi itu langsung melebar. Ia menutup mulutnya dengan tangan, lalu buru-buru kabur sambil menarik temannya. Yang ditarik ikut menatap Mahesa seolah melihat sesuatu yang… kotor.
Lantas, terdengar bisik-bisik dari arah kiri Andaru.
“Itu dia orangnya…”
“Parah banget. Masa gitu sama Kanesti…”
“Foto-fotonya ada di mading depan aula…”
Mahesa berhenti. Membeku di tempat. Kedua tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.
Andaru segera mendekat. “Apa maksudnya? Foto apa?”
Ia mencoba menangkap salah satu siswa yang lewat, tapi anak itu langsung lari ketakutan.
Mahesa menelan ludah, rahangnya mengeras. “Aula,” gumamnya pendek. Suaranya rendah, hampir seperti geraman.
Andaru tidak sempat bertanya lagi. Mahesa sudah berlari. Dengan refleks, Andaru ikut berlari mengejar.
Mereka berdua menembus kerumunan yang semakin ramai. Suasana pagi yang biasanya tenang kini penuh dengan dorongan bahu, bisik-bisik dan tatapan tajam. Begitu belok ke koridor aula, mereka melihat banyak siswa berkumpul mengitari papan mading yang terpasang di dinding. Suara riuh rendah terdengar, campuran antara keterkejutan dan gosip yang meneteskan racun.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
Fiksi RemajaMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
