2. |Sandaran Kuat|

2.2K 178 15
                                        

All we need just heal》

_I.N_

Sandaran Kuat ▪︎

===================================

☘☘☘


Satu tahun berlalu, banyak yang berubah dari kehidupan Mahesa. Tentang penantian tak berkesudahan yang berujung melepaskan. Kehilangan. Kesabaran. Kesendirian. Semua tahap pendewasaan yang membuat hati lembut seorang Mahesa kini mengeras.

Di satu bulan awal perpisahannya dengan Mahaka, ia masih terus menunggu kehadiran Kakaknya. Menghabiskan hampir delapan puluh persen harinya di pelataran panti. Berharapan mobil yang menelan Kakaknya pergi dapat datang kembali. Namun, selama apa pun ia menunggu, Mahaka tak akan pernah ada lagi.

Tiga bulan berlalu setelah Mahaka pergi. Panti yang ia tempati habis dilalap api. Bunda Amira turut menjadi korban dalam kejadian memilukan hati itu. Panti terpaksa harus direlokasi ke tempat baru yang ditetapkan oleh donatur setempat. Kepengurusan panti pun berpindah tangan dengan segala perubahan aturan.

Panti hanya mengurus anak usia 0 sampai tujuh belas tahun. Hal ini menyebabkan Pramudia harus pergi dan Mahesa kehilangan lagi. Tidak apa-apa, ia sudah cukup menata hati untuk setiap kehilangan berulang dalam hidupnya. Mahesa selalu berpikir mungkin nanti ia memang harus hidup sendiri.

Tidak ada lagi hari-hari menyenangkan yang diisi dengan bermain dan belajar. Panti dipimpin oleh seorang ibu muda bernama Brisha. Brisha berarti setan. Arti nama yang selaras dengan sikap dan sifatnya. Panti asuhan ia sulap menjadi tempat eksploitasi berkedok mengayomi.

Baju baru, makanan enak, senyum yang tulus, hanya mereka dapat setiap donatur tetap berkunjung dan menengok keadaan panti. Tak lama, hanya jeda beberapa jam. Semua anak diwajibkan bekerja membersihkan panti. Diberi makanan dengan lauk yang bahkan tak dapat dikatakan layak. Banyak anak yang dipukuli jika melakukan hal yang tak Ibu Brisha sukai.

Bulan ketujuh setelah Mahaka pergi, Mahesa harus kembali kehilangan lagi. Fabian, sahabat karibnya, satu-satunya yang masih ia miliki di tengah kehidupan yang tak mengenakan ini, diadopsi oleh sepasang suami istri dari Jakarta. Ya, kota yang sama yang telah membawa Mahaka pergi.

Mahesa menangis? tentu tidak. Sejak kebohongan yang Kakaknya berikan, air mata Mahesa sudah tak ada lagi. Ia membiarkan Bian pergi dan ia tetap menjalani hari-harinya di panti.

Sampai akhirnya hari ini, tepat setahun Mahaka pergi, air mata Mahesa kembali menitik lagi. Di kamarnya yang gelap dan sempit. Di atas bantalnya yang sudah lusuh. Ia kembali menangis. Karena sejatinya, sebagaimana pun dunia mendewasakan, Mahesa tetap anak delapan tahun yang masih butuh banyak kasih sayang.

Hari ini ia melakukan kesalahan yang tak termaafkan menurut Ibu panti. Pulang malam dengan keadaan lusuh dan tangan kosong. Tadi, sebelum pulang, segerombolan preman menghadang. Merampas seluruh uang yang ia punya. Sampai tak tersisa sepersen pun uang hasil mengamen di alun-alun yang dapat ia setorkan. Hal ini yang menggugah amarah Bu Brisha. Ikat pinggang kulit menyapa punggung kecilnya. Di tengah ruangan besar. Di hadapan anak-anak lainnya. Brisha bilang, Mahesa menjadi pelajaran bagi siapa saja yang tak mau bekerja dengan giat.

Suara tapak kaki membuat tangis Mahesa terhenti. Ia bangkit dari posisi telungkupnya. Mahesa beranjak, berjalan tertatih menuju jendela kamar yang terbuka. Ia meronta ketika tiba-tiba ada yang menyekap mulutnya saat ia akan menutup jendela.

"Jangan berisik, ini Mas Pram."

Mahesa membolakan mata. Menatap sosok di hadapannya. Pramudia. Dia pramudia Kakaknya. Mahesa langsung mendekap sosok itu erat. Tersedu dan tak mau lepas. Seolah menumpahkan segala sesak. "Kenapa baru ke sini," keluhnya.

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang