24. |Bara Sesal Dalam Malam|

2.8K 223 79
                                        

《All We Need Just Heal》

Bara Sesal Dalam Malam

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■

"Kan gue bilang juga apa, Bang...."

Putus tatap Mahaka beralih pada anak remaja yang berdiri bersandar pada dinding di belakangnya. Ia menghampiri Daru dengan sorot mata penuh tanya. Usapan ia berikan di bahu Andaru. Kejadian tadi lagi-lagi mempertanyakan kebijaksanaannya sebagai seorang kakak.

"Maafin Esa, ya," ujar Mahaka memadamkan emosi yang menyala di bola mata adiknya. "Kita ngobrol di dalam."

Mahaka merangkul pundak tegap Andaru masuk ke dalam kamar. Mereka duduk di tepi ranjang sembari menata emosi masing-masing. Deruan napas Mahaka terdengar lelah. Pundaknya layu dengan kedua tangan mengusak wajahnya kasar.

Bagaimana pun, kamu adalah kakaknya. Satu-satunya orang yang mungkin bisa Mahesa percaya untuk berbagi suka duka. Jangan sampai dia kehilangan peran kamu sebagai satu-satunya keluarga yang dia punya. Setiap ada masalah, utamakan ajak bicara, Mahaka. Tidak selalu apa yang kita lihat, sama dengan cerita aslinya. Mahesa bukan tipe pembuat onar dk sekolah, saya yakin.

Kata-kata Miss Janet sore itu terngiang. Mahaka banyak merenung tentang apa yang telah ia lakukan pada adiknya barusan. Tentang keraguan, tentang kemarahan. Mahaka menyesal sudah bertingkah seolah-olah ia lah yang paling kecewa. Lupa pada fakta bahwa dirinya lah sumber kekecewaan yang sebenarnya.

Alih-alih mengikuti anjuran Miss Janet untuk berbicara dari hati ke hati untuk dapat cerita sebenarnya, Mahaka justru kembali menorehkan luka. Tiap tuduhan yang tadi ia lontarkan pada Mahesa, mungkin kembali menggali lubang baru di dalam sana. Lubang yang perihnya masih terasa. Lubang yang belum juga tertutup mungkin sejak saat ia meninggalkan anak itu di panti.

Sepuluh tahun terpisah dan berjarak. Hidup di kota yang berbeda tanpa saling menyapa atau bahkan bertukar kabar. Mahaka paham betul, seberapa besar kecanggungan yang tercipta. Jika dipikir-pikir, sejak ia membawa adiknya untuk tinggal bersama di Jakarta, belum satu kali pun ia lihat senyum manis Mahesa. Tidak sekali pun mereka dapat menghabiskan waktu berdua. Entah untuk saling melepas rindu atau sekedar berbagi cerita. Ia tidak pernah mengajak adiknya pergi, makan dan menikmati waktu selayaknya saudara. Mahesa hidup sendiri di rumah semegah ini. Anak itu tidak satu kali pun menghubungi Mahaka, bahkan ketika ia mendapat masalah di sekolahnya.

"Nggak usah dibahas harusnya, Bang, kalau malah bikin lo pusing kayak gini. Percuma juga Esa nggak akan mau jujur."

Mahaka menoleh dengan guratan merah di bola matanya. Menatap anak kecil yang sudah bertumbuh dewasa. Menjadi teman bertumbuh kembangnya selama sepuluh tahun terakhir ini.

"Harusnya lo udah bisa istirahat, tidur, seharian udah capek kerja malah harus ngurusin masalah kayak gini," ujar Andaru penuh penyesalan. "Gue nggak apa-apa, ini dikasih salep juga selesai."

Sejenak Mahaka terpaku pada lebam di pipi Andaru. Awal mula emosinya terpantik. Namun, setelah direnungkan, rasanya mustahil hal yang terjadi beberapa waktu belakangan ini. Mulai dari Mahesa yang tiba-tiba terkena masalah karena dituduh memukuli temannya. Mahaka baru berpikir, apakah mungkin Mahesa sudah memiliki musuh dari sekolah lain di saat anak itu bahkan tak banyak memiliki teman dari sekolahnya sendiri?

Ditambah aduan Andaru soal Mahesa yang memukulnya karena tidak mau dinasihati. Mahaka percaya orang bisa berubah, tapi hati kecilnya tetap menyangkal kalau adik manisnya tidak mungkin menjadi berandal. Mahesa dengan pembawaan tenang, apakah mungkin akan semudah itu melayangkan pukulan? Apa lagi pada Daru. Namun, jika Daru berbohong, untuk alasan apa?

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang