48. |Sudah Asing|

923 144 130
                                        

All We Need Just Heal》

Sudah Asing

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■

Taman sekolah pagi itu terlalu tenang untuk isi kepala yang gaduh. Bian dan Ziro duduk di bangku besi yang catnya mulai mengelupas, di bawah pohon tua yang daunnya berguguran pelan, jatuh satu per satu seperti detik yang diseret waktu. Angin berembus malas, membawa suara riuh dari kejauhan, tawa siswa lain, bunyi bola yang dipantulkan di lapangan, namun tak satu pun benar-benar sampai ke telinga mereka. Dunia terasa menyempit, mengerucut pada bangku itu saja, pada dua kepala yang dipenuhi pikiran masing-masing. Ada sesuatu yang menggantung di antara mereka, sebuah penantian yang tak kunjung menemukan ujung.

Ziro akhirnya membuka suara. Ia menoleh, mengamati Bian yang sejak tadi menatap kosong ke depan, bahunya kaku, rahangnya mengeras seakan sedang menahan sesuatu yang ingin meledak. “Sampai sekarang belum ada kabar?”

Bian menggeleng pelan. Tangannya naik mengusap wajah, kasar, penuh frustrasi, gerakan yang lebih mirip upaya menahan amarah daripada sekadar lelah. “Padahal tiap gue chat ceklis dua, tapi nggak dibalas.”

Ada getir dalam suaranya. Sudah beberapa hari berlalu sejak kasus Mahesa selesai. Sudah selama itu pula Kanesti susah dihubungi. Berkali-kali Bian mencoba menelfon, mengirim pesan, namun tidak satu pun mendapat tanggapan walau nomornya aktif.

“Udah coba ke rumahnya?” tanya Ziro, suaranya hati-hati, ia tahu persis sifat temannya ini.

“Udah,” Bian berhenti sejenak, menelan napas, lalu melanjutkan dengan rahang mengeras. “Mereka udah pindah sekeluarga seminggu lalu. Orang rumahnya nggak ada yang ngasih keterangan pindah ke mana.” Kata-kata itu jatuh berat, seperti palu kecil yang dipukulkan berulang kali di kepala.

Ziro bersandar, menatap lurus ke depan. Ia sudah menduga dan dugaan itu terasa semakin nyata sekarang. “Ya nggak bakal,” katanya pelan. “Dia pindah tujuannya buat mulai hidup baru tanpa orang-orang yang dia kenal di sini.”

Bian mendengus, “Ya tapi maksud gue cepetan aja gitu, Ro. Selesaiin janjinya. Toh gue juga udah menuhin perjanjian kita buat gak buka mulut.” Ada tuntutan di sana, bukan sekadar pada orang yang menghilang, tapi pada semesta yang terasa terlalu santai mengulur waktu.

Ziro menghela napas, mencoba menyusupkan logika ke sela-sela emosi. “Mungkin dia masih sibuk ngurus macem-macem di sana. Namanya juga orang baru pindahan. Sabar aja lah, Bi.”

Kata sabar justru membuat mata Bian menyipit. Sejenak ia terdiam, lalu berkata dengan nada rendah yang nyaris mendesis, “Udah nggak tahan gue tiap liat muka si babi.”

Ziro tahu betul siapa yang dimaksud. Nama itu tak perlu disebut, kehadirannya selalu muncul seperti bayangan panjang yang merusak cahaya. Ia hanya mengangguk. “Yang penting masalah Esa udah kelar. Sisanya kita tinggal sabar. Bentar lagi paling.”

Namun Bian menggeleng pelan, kali ini lebih tegas. “Itu orang licik, Ro. Gue takut keburu ada masalah lain kalau virusnya belum dimatiin.” Kalimat itu keluar tanpa ragu, seperti kesimpulan yang sudah lama berputar di kepalanya.

Ziro menimbang sejenak, lalu berkata, “Lo ancem aja. Kasih tau kalau lo tau busuknya dia. Biar dia nggak berani ngapa-ngapain.”

Bian tak menjawab. Tatapannya tiba-tiba terkunci, seolah ada magnet yang menariknya. Di lorong sekolah, lurus dengan arah pandangannya, muncul sosok yang berjalan tertatih. Andaru. Kakinya terbalut gips putih, kruk menopang tubuhnya yang tampak pincang. Setiap langkahnya terdengar lambat, berat. Sesuatu di dada Bian bergerak, amarah lama yang selama ini ditahan, kini menemukan sasaran. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya, bukan senyum lega, melainkan senyum yang membawa niat buruk.

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang