46. | Rumah Itu |

954 149 110
                                        

《All We Need Just Heal》

Rumah Itu

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■

Hari itu bermula dengan perasaan ringan yang jarang muncul bersama-sama. Udara pagi terasa bersih, seolah ikut merayakan kemenangan Mahesa di pertandingan basket. Sejak peluit akhir berbunyi, senyum di wajah Mahesa tidak pernah benar-benar hilang. Ia membawa pulang lebih dari sekadar kemenangan, ia membawa kebanggaan yang diam-diam tumbuh di dada Mahaka. Perayaan kecil mereka berlangsung sederhana di sebuah restoran yang sudah sering mereka datangi. Meja makan dipenuhi piring-piring kosong dan sisa tawa yang belum habis. Mahesa tampak lebih hidup dari biasanya, tertawa lepas, bahunya lebih tegak. Mahaka menikmati setiap detik itu dengan perasaan hangat yang jarang ia akui. Andaru ada di sana, ikut merayakan, ikut tersenyum, seolah hari itu memang pantas dirayakan bersama. Tidak ada tanda apa pun bahwa sore itu akan berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.

Setelah makan siang selesai, mereka pulang dengan perasaan puas. Rumah menyambut mereka dengan keheningan yang akrab. Mahesa langsung menuju kamarnya, mungkin ingin mengistirahatkan tubuhnya setelah hari yang panjang. Mahaka masih sempat duduk sebentar di ruang tengah, menikmati sisa-sisa rasa bahagia yang menggantung di udara. Andaru kemudian berpamitan untuk keluar sebentar, katanya hanya urusan singkat dengan temannya. Tidak ada kecurigaan, tidak ada larangan. Semuanya terdengar wajar.

Sore perlahan turun, cahaya matahari berubah warna dan waktu berjalan tanpa terasa. Rumah menjadi terlalu tenang. Hingga sebuah panggilan telepon memecah ketenangan itu dan mengubah segalanya. Kabar bahwa Andaru berada di IGD karena kecelakaan datang begitu mendadak, tanpa ruang bagi Mahaka untuk bersiap. Kalimat itu terasa asing, seperti tidak cocok ditempelkan pada hari yang seharusnya berakhir dengan rasa syukur. Perjalanan menuju rumah sakit terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, namun Mahaka hampir tidak menyadarinya. Kepalanya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang menyesakkan dada. Siang yang cerah terasa begitu jauh, seolah milik hari lain.

IGD menyambut dengan kesibukan dan bau antiseptik yang menusuk. Langkah-langkah cepat, suara roda brankar dan wajah-wajah tegang menciptakan suasana yang kontras dengan perayaan beberapa jam sebelumnya. Di sanalah Andaru terbaring dengan kaki kiri yang terbalut gips. Wajahnya pucat, ditemani Nuri sang Bunda.

“Kok bisa gini si?” Mahaka mendekat, mengusap pelan gips di kaki adiknya. Lalu tangannya beralih mengusak kepala Andaru.

Andaru langsung melingkarkan tangan di pinggang kakaknya. Memeluk kakaknya dari samping. Mahaka pun membalas dengan mengusap lengan adiknya sembari menciumi kepala anak itu.

“Sama siapa, Bang?” tanya Nuri, Bundanya yang juga ada di situ.

“Sendiri. Kaget banget aku pas dikabarin.”

Nuri menghela napasnya kasar sembari bangkit dari duduknya. Wanita itu mengambil satu bangku kosong di ranjang sebelah dan memberikannya pada Mahaka. “Bunda juga kaget lagi ada pasien tau-tau dikabarin sama Juan kalau adek masuk IGD karena kecelakaan,” sahut Nuri. Juana dalah perawat IGD yang sangat dekat dengannya.

“Kakinya kenapa, Bun?” tanya Mahaka khawatir. Matanya tak lepas mengamati gips di kaki adiknya yang tampak kaku itu.

“Dari hasil rontgen ada retak karena benturan di tulang keringnya, tapi tulangnya nggak bergeser,” Nuri mengusap pelan kaki anak bungsunya. “Tapi tetap harus benar-benar dijaga. Makanya dipasang gips supaya tulangnya nggak bergerak dan bisa nyambung dengan sempurna.”

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang