29. |Rengkuhan Dingin|

1.3K 132 45
                                        

All We Need Just Heal》

Rengkuhan Dingin

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■

Hujan turun deras malam ini, jarum jam menunjuk pukul 21.00 ketika mobil Mahaka perlahan memasuki pekarangan rumah. Lampu jalan yang temaram membuat genangan di halaman berkilau seperti cermin bergetar setiap kali tetes hujan menghantamnya. Udara terasa dingin menusuk, menyelip di sela-sela pakaian meski tubuh Mahaka masih diliputi hangat lelah setelah seharian bekerja dan menjemput Mahesa di rumah sakit. Dari dalam mobil, suara wiper yang berulang menghapus jejak hujan di kaca depan terdengar ritmis, seolah menjadi musik latar perjalanan yang panjang dan sunyi.

Mahaka mematikan mesin mobilnya tepat di depan pintu utama. Ia melepas sabuk pengaman yang membelit dadanya, lalu menyandarkan punggung ke kursi kemudi. Ia menarik napas kasar, melihat rumah malah mengingatkannya pada kejadian malam lalu dan fakta-fakta yang menyakitinya. Ia menoleh ke sisi kiri, bibirnya tertarik membentuk lengkungan senyum yang meneduhkan. Ia kemudian keluar dari mobil dengan gerakan pelan agar seseorang yang tengah terlelap tidak terbangun.

"Sa," perlahan, ia panggil adiknya yang tengah terpejam tenang.

Anak itu terbangun. Kedua kelopak matanya perlahan terbuka. Mengerjap, mengamati sekitar. Menyesuaikan silau cahaya teras yang menyala terang.

"Mau gue gendong aja?" tawar Mahaka melihat wajah adiknya yang masih pucat.

Mahesa hanya menyahuti dengan gelengan  singkat.

"Ya udah, jalan aja pelan-pelan ya," ucap Mahaka sembari melepas seatbelt adiknya 

Lelaki itu pun keluar lebih dulu dari kursi kemudi. Kemudian membuka pintu dan menuntun Mahesa berjalan pelan masuk ke dalam rumah.

Saat Mahaka masuk, aroma tanah basah dan angin malam ikut terbawa. Mahaka melangkah dengan hati-hati. Mahaka menghela napas, kelelahan terselip dalam sorot matanya. Di tengah hening yang hanya diisi suara rinai hujan di luar, sosok Andaru muncul dari arah tangga. Pandangan Mahaka singgah sejenak padanya, datar dan dingin, sebelum kembali beralih pada Mahesa yang berjalan di sisinya.

"Baru pulang, Bang?" tatap Andaru bersirobok dengan manik hitam teduh milik Mahaka.

Sementara, lelaki itu memilih diam. Ia memilih untuk tak acuh dan melewati Andaru begitu saja. Menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar Mahesa. Tak satu pun sapaan terucap dari belah bibir merahnya.

Andaru terdiam di tempat, tubuhnya tampak kaku seakan menahan sesuatu yang sulit terucapkan. Hujan di luar seakan memantulkan ketegangan yang menggantung di udara. Mahaka, tanpa sepatah kata pun, melangkah melewatinya dengan wajah tak acuh, meninggalkan jarak yang tak kasat mata namun terasa pekat. Malam itu, rumah yang biasanya menjadi tempat berlindung dari dingin, justru dipenuhi keheningan yang berat, menanti kapan hujan reda—atau mungkin bertambah deras.

"Bang...."

Andaru meraih pergelangan tangan Mahaka saat sampai di ujung tangga lantai dua.

"Ru," nada rendah yang Mahaka gunakan mampu membuat Andaru mengendurkan cekalan tangannya pada lengan Mahaka.
"Tunggu gue di kamar."

Daru menatap mata Mahaka yang hanya sekilas menatap ke arahnya. Lalu cekalan tangannya benar benar terlepas saat Mahaka menarik pelan lengannya untuk menopang tubuh Esa yang masih lemah.

"Masih pusing?" tanya Mahaka pada Esa setelah beberapa langkah.

Suara hangat yang masih dapat ditangkap oleh Daru. Berbeda sekali dengan yang ditujukan untuknya. Daru, meremat udara di telapak tangannya. Dalam diam, menatap lekat punggung Mahaka yang perlahan menghilang di balik pintu kamar Mahesa.

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang