《All We Need Just Heal》
● Setidaknya Ada Satu ●
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■
Esa sedikit terperenjat saat pintu ruang detensi terbuka dengan suara menggema. Ia menghela napas panjang saat menemukan Bian berdiri di sana.
"Udah balik, lo."
Tanya Esa akhirnya, setelah menatap Bian cukup lama. Nada suaranya tak jelas, tidak juga benar-benar bertanya. Fokusnya kembali tertuju pada buku soal di hadapannya.
Pensil di tangannya seperti menari di atas kertas buram. Debam terdengar saat Bian menutup kembali pintu ruangan, diukuti hela napas panjang Esa, seperti sudah hafal tentang apa yang akan terjadi setelahnya.
"Jelasin ke gue coba."
Tuntut Bian, merebut pensil dari tangan Mahesa, mencoba merebut atensi sahabatnya.
"Sampai ke Belanda beritanya?"
"Kenapa? Lo bingung kenapa gue bisa tau beritanya padahal lo nggak bisa dihubungi sama sekali?"
Esa sedikit berdiri dan mencondongkan badannya ke depan untuk merebut kembali pensil di tangan Bian. Beberapa kali tapi gerakannya selalu kalah cepat. Kini Bian sudah mengacungkan pensil itu tinggi ke udara.
Mahesa yang jengah akhirnya memilih kembali mendudukkan tubuhnya. Mendesah. Mengalah. Mengambil pensil lain dari dalam tasnya.
"Hp gue disita buat diperiksa."
Belum sempat kembali menulis jawaban di kertas buram, Bian lagi lagi merampas pensil dari tangan Mahesa. Kali ini dengan gerakan kasar, Bian juga merampas tas dan buku soal di hadapan Mahesa.
"Apasih, Bi."
Mahesa berusaha menahan gerakan tangan Bian tapi tau semua percuma.
"Lo tau nggak, lo bisa dikeluarin dari sekolah kalau lo nggak bisa ngebuktiin lo nggak salah? Lo tau nggak kalau lo dikeluarin dari Gardacitya, nggak bakal ada satupun sekolah bagus yang bakalan mau nerima lo?"
Bian berbicara dalam satu tarikan napas, sambil terus memasukkan buku-buku Mahesa ke dalam tas. Ingin atensi sepenuhnya.
"Ya terus lo maunya gue gimana?"
"Lo beneran nidurin itu cewek?"
"Enggak lah." Mahesa berkedip beberapa kali, berpikir. "Enggak inget gue."
"Enggak inget??? Lo gila ya?!! Lo mabok?"
"Enggak lah."
"Enggak apa? Enggak inget?"
"Enggak. Enggak, beneran. Enggak mabok gua."
"Terus kenapa nggak inget?"
Esa menggeleng, memejam, memijat pangkal hidungnya, lalu tangannya berpindah, bergerak memijat keningnya pelan.
Bian diam, memperhatikan. Berpikir. "Lo ada dikasih makan atau minum?" Selidiknya.
Mahesa membuka mata lalu mengangguk menatap Bian yang berdiri sambil berkacak pinggang di hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
General FictionMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
