43. |Ringan|

1.2K 164 85
                                        

All We Need Just Heal》

Ringan

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■

Sore itu, udara di ruang kerja Mahaka terasa berat, seolah ikut memikul beban yang bersarang di dadanya. Lampu meja menyinari tumpukan berkas yang tersusun rapi, namun tak satu pun mampu menenangkan pikirannya. Nama Mahesa, adiknya, tercetak jelas di beberapa lembar dokumen. Tuduhan pelecehan yang tiba-tiba menyeruak itu telah mengguncang bukan hanya nama keluarga mereka, tetapi juga keyakinan Mahaka sebagai seorang kakak.

Daniel berdiri di seberang meja, memeriksa kembali isi map dengan ekspresi serius. Ia tahu betul, sore ini bukan sekadar urusan administrasi. Ini adalah upaya terakhir untuk mengungkap kebenaran. Daniel sendiri berkata pada Mahaka, ini hanya tuduhan kosong. NMereka hanya tinggal menunggu bukti terkumpul.

“Udah lengkap semua, Niel?” tanya Mahaka akhirnya, memecah keheningan.

Daniel mengangguk pelan. “Tinggal surat kuasa. Lo taruh di mana?”

Mahaka mengerutkan kening, lalu berdiri. “Oh… bentar.”

Ia berjalan menuju lemari arsip di sudut ruangan. Tangannya sedikit gemetar saat menarik map hitam itu. Surat kuasa yang ia dapat dari Bian kemarin malam masih terselip rapi di dalamnya. Ia menatapnya sejenak, sebuah simbol kepercayaan yang sempat ia ragukan pada adiknya sendiri. Mahaka kembali dan menyerahkan map itu pada Daniel.

Daniel membukanya sekilas, lalu menutup kembali. “Oke.”

Mahaka menghela napas panjang. “Kita jalan sekarang.”

Tanpa banyak kata, keduanya meninggalkan ruangan. Di perjalanan menuju Hotel Grand Muria, Mahaka lebih banyak diam. Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil, membentuk bayangan samar yang mengingatkannya pada wajah Mahesa, wajah yang sejak kecil selalu ia lindungi, namun kali ini sempat ia ragukan.

Hotel Grand Muria berdiri megah di hadapan mereka, lampu-lampunya menyala hangat di malam hari yang dingin. Suasana lobi terlihat tenang, hampir terlalu tenang untuk sebuah tempat yang menyimpan kebenaran besar. Mahaka dan Daniel melangkah menuju meja resepsionis.

“Selamat malam, Bapak. Ada yang bisa kami bantu?” sapa resepsionis perempuan dengan senyum profesional.

Mahaka menatapnya mantap. “Saya Mahaka. Saya sudah membuat janji dengan Pak Martin.”

Resepsionis mengecek layar komputernya. “Baik, Pak Mahaka. Mohon izin, boleh saya lihat KTP-nya terlebih dahulu?”

Mahaka menyerahkan kartu identitasnya. Tangannya tenang, meski pikirannya berkecamuk. Resepsionis memeriksa data tersebut, lalu tersenyum kembali.

“Terima kasih, Pak. Silakan ditunggu sebentar. Saya konfirmasi dulu dengan Pak Martin.” Tak lama kemudian, resepsionis kembali. “Pak Mahaka, mohon izin. Bapak bisa langsung menuju ruang kendali di lantai dua. Akan diantar oleh Mas Rauf.”

“Terima kasih,” jawab Mahaka singkat.

Seorang pria berseragam hotel menghampiri mereka. “Mari, Bapak. Saya antar,” ujar Rauf ramah.

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang