《All We Need Just Heal》
● Hidup Mahesa ●
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■
“Sekali lagi kami mohon maaf, Mahaka. Ada peraturan yang tetap harus ditegakkan. Kami berharap, kasus ini dapat menjadi pembelajaran untuk Mahesa ke depannya.”
Kalimat keputusan akhirnya diucapkan dengan resmi. Hasil banding tidak mengubah apa pun. Tes lanjutan tetap menunjukkan hasil yang sama. Ia dinyatakan positif. Tercatat pukul 17.45, Mahesa dikeluarkan, bukan hanya dari tim basket, tetapi juga dari Gardacitya. Keputusan yang terasa mutlak dan tidak tergoyahkan. Berbagai kalimat pembelaan keluar, tidak hanya dari kedua belah bibirnya, Mahaka, Miss Riana bahkan Coach Carter pun turut bersuara. Namun peraturan tetap peraturan. Semua keputusan diambil berdasarkan bukti yang ada.
Tidak satu pun sanggahannya dapat ia buktikan. Mulai dari paket yang Mahesa bilang adalah titipan, saat hendak menunjukkan bukti berupa chat, nyatanya memang Yusril mengirimkan pesan bahwa paket tersebut tidak jadi dititipkan padanya, melainkan ke tetangga kosnya. Saat paket itu dibuka, barang terlarang itu memang terpampang dengan jelas. Diperkuat dengan rekaman CCTV yang membuktikan bahwa paket tersebut ia terima. Tertera nama jelasnya. Seseorang menjebaknya. Sudah jelas. Namun, Mahesa tidak ada kekuatan, ia pun tidak ada dukungan untuk membuktikan semuanya hanya jebakan dalam detik yang sama. Maka, tidak ada lagi yang dapat ia lakukan selain menerima bagian-bagian yang telah menjadi garis takdirnya.
Anehnya, Mahesa tidak merasakan ledakan sedih seperti yang dibayangkan orang lain. Tidak ada keinginan untuk membantah, tidak ada dorongan untuk menangis saat itu juga. Sekolah, seragam, lapangan basket, semua itu tiba-tiba terasa jauh, seperti benda yang dilihat dari balik kaca tebal. Kehilangan itu ada, tetapi tidak langsung menyentuh. Yang menghantamnya justru sesuatu yang lebih dari itu.
Di kepalanya bukan suara keputusan yang bergaung, melainkan tawa seseorang dari masa lalu, tawa yang sudah lama tak bisa ia dengar lagi. Bayangan Pramudya muncul begitu jelas, sepatu merah yang dibeli dengan cucuran keringat. Tangan kokoh yang selalu menepuk pundaknya saat ia mulaai lelah. Kalimat penyemangat yang terus-menerus terdengar di telinganya.
Dulu cita-cita gue emang jadi atlet, tapi sekarang gue lebih suka ngajarin lo. Lo aja yang lanjutin cita-cita gue.
Lo pasti bisa jadi atlet nasional. Lo harus bisa megang piala di ajang bergengsi nantinya, Sa. Gue yakin lo bisa.
Harapan itu terngiang di telinganya. Sampai satu tetes air mata meluncur dengan cepat, secepat itu pula Mahesa menghapusnya. Dadanya terasa kosong. Kakaknya tidak akan pernah melihat trofi yang ia cita-citakan dahulu. Cita-cita kakaknya tidak akan pernah tercapai. Mahesa tidak menangisi status yang dicabut, melainkan versi dirinya yang gagal membawa mimpi itu lebih jauh. Senja di luar jendela semakin redup dan di dalam ruangan itu Mahesa duduk diam, bukan sebagai siswa yang dikeluarkan, tetapi sebagai adik yang merasa telah mengecewakan orang yang paling ia sayangi.
“Sa!!!”
Bian bangkit dari duduknya di bangku ujung koridor. Suaranya menggema pendek di lorong yang mulai lengang. Warna langit di luar jendela sudah keemasan, cahaya senja memanjang di lantai keramik seperti garis waktu yang tak bisa diputar ulang. Sejak siang ia menunggu di sana, matanya tak pernah benar-benar lepas dari pintu ruang bimbingan konseling. Pintu itu seperti batas tipis antara harapan dan keputusan yang tak ingin ia dengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
Novela JuvenilMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
