38. | Mahesa Percaya |

1K 126 40
                                        

《All We Need Just Heal》

Mahesa Percaya

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■

Ruang tamu gelap kecuali cahaya redup dari lampu standing di pojok ruangan. Mahesa terbaring di sofa dengan posisi meringkuk, satu tangan memegang perutnya yang sejak sore terasa perih kembali. Setelah pulang dari membeli kado untuk Kanesti, kepalanya berdenyut. Ia cukup kewalahan menahan rasa mual yang datang karena pandangan yang buram. Mahesa tadinya bermaksud hanya duduk sebentar untuk menenangkan diri sebelum naik ke kamar di lantai dua, tapi tubuhnya terlalu lelah untuk bergerak.

Tanpa sadar, matanya terpejam. Pusing itu perlahan memudar, digantikan kantuk yang datang. Dan di sanalah ia tertidur, masih mengenakan pakaian yang sama, tanpa selimut ataupun bantal.

“Sa, bangun dulu. Pindah ke kamar aja yuk.”

Suara lembut itu terdengar samar, seperti datang dari sangat jauh. Mahesa mengerjapkan mata dengan susah payah, melihat Bi Martha berdiri di samping sofa sambil menggoyang pelan bahunya.

“Bi…” suara Mahesa serak, masih separuh sadar.

“Pindah ke kamar dulu yuk. Udah jam 9 ini loh,” ujar Bi Martha sambil menunjuk jam dinding.

Kata jam 9 membuat Mahesa langsung duduk tegak. Rasa pusing yang belum hilang sepenuhnya seperti tersapu panik yang mendadak menghantam dadanya.

“Jam 9?” ulangnya cepat, hampir tidak percaya. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel. Begitu layar menyala, notifikasi pesan berderet panjang dari Kanesti langsung memenuhi pandangannya.

Kanesti Adynara. [19.10]
Pestanya bakal gue mulai setelah lo dateng.

Kanesti Adynara. [19.30]
Sa? lo jadi dateng kan?

Kanesti Adynara. [19.45]
Nanti kalau udah sampai langsung masuk aja ya.

Kanesti Adynara. [20.45]
It’s oke nggak apa-apa kalau nggak bisa datang dan ada agenda lain. Have fun.

Mahesa terdiam setengah detik sebelum mengumpat pelan, “Shit!”

Ia mengusap wajahnya kasar. Undangan ulang tahun Kanesti seharusnya jam tujuh malam dan sekarang sudah lewat dua jam. Ia menutup wajahnya sebentar, menahan rasa bersalah. Tanpa menunda lagi, ia bangkit dari sofa. Rasa pusing masih bergelayut, tapi ia abaikan begitu saja. Tangannya langsung menyambar jaket dan kunci motor yang tergeletak di meja. Ia juga meraih paper bag kecil berisi kado yang ia beli tadi sore, untung masih utuh.

“Aku ke kamar dulu, Bi. Makasih udah bangunin,” katanya terburu-buru.

Bi hanya mengangguk, meski sorot matanya terlihat khawatir melihat Mahesa bangkit dan berjalan dengan sempoyongan.

Mahesa bergegas menuju tangga, naik dengan langkah setengah terhuyung, lalu masuk ke kamarnya untuk bersiap secepat mungkin. Ia mencuci muka, mengganti baju, merapikan rambut seadanya dan memastikan kadonya aman. Setiap gerakannya penuh kepanikan, waktu sudah terlalu malam dan ia tidak ingin mengecewakan Kanesti lebih dari ini. Begitu semuanya siap, Mahesa turun lagi, mengenakan jaket dan keluar rumah. Keberuntungan sedang berpihak padanya saat Mahaka, Nuri dan Andaru ternyata belum pulang. Motor dinyalakan dan tanpa pikir panjang, ia melaju menuju lokasi pesta ulang tahun Kanesti, berharap masih punya kesempatan untuk memperbaiki malam ini.

Angin malam menyapu wajah Mahesa ketika ia memacu motornya secepat yang ia bisa. Jalanan sudah mulai lengang, hanya beberapa mobil yang lewat sesekali. Lampu-lampu kota berlari seperti garis-garis cahaya di sudut matanya. Dada Mahesa masih terasa sesak oleh penyesalan, sementara pelipisnya berdenyut lembut, sisa pusing yang sejak sore menusuk kepala dan tak sepenuhnya hilang meski ia paksa.

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang