47. | Menjadi Seistimewa Yogyakarta |

1.1K 146 33
                                        

《All We Need Just Heal》

Menjadi Seistimewa Yogyakarta

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■

Pesawat baru saja berhenti sempurna ketika pintu dibuka dan arus penumpang mulai bergerak keluar. Udara Jogja menyambut dengan hangat yang khas, tidak panas yang menyengat, melainkan hangat yang terasa seperti pelukan pelan. Mahaka melangkah lebih dulu, menarik koper kecil, menoleh sesekali memastikan Mahesa ada di belakangnya. Adiknya itu berjalan tenang, ransel tersampir di satu bahu, wajahnya datar tapi matanya sibuk menyerap setiap detail bandara.

Mereka tidak lama berada di dalam. Setelah mengambil bagasi, Mahaka langsung mengurus penyewaan mobil. Tanpa banyak pertimbangan, ia memilih mobil sederhana, yang penting bisa jalan, yang penting cepat dan adiknya nyaman. Tidak ada rencana berlama-lama di kota. Tujuan mereka jelas sejak awal, makam Pramudia.

Mahaka duduk di balik kemudi, menyalakan mesin. Mahesa duduk di kursi penumpang, menatap lurus ke depan saat mobil perlahan meninggalkan area bandara. Jalanan siang itu cukup lengang. Beberapa kendaraan melintas, tapi tidak sampai membuat laju terhambat. Mahaka melirik ke kaca spion, lalu ke arah Mahesa. Ia tahu, kalau dibiarkan, perjalanan ini akan tenggelam dalam diam. Maka ia membuka suara.

“Kalau nggak lagi hari biasa kayak gini,” katanya sambil tetap fokus menyetir, “Jogja pasti padet banget.”

Mahesa mengangguk tipis. “Semua orang mendadak punya kampung di Jogja.”

Mahaka tersenyum kecil. “Bener.” Ia menghela napas pelan. “Tapi iya nggak sih, Sa? Di Jogja ada apa ya… sampai kayaknya nggak cukup datang sekali. Pasti penginnya balik lagi, balik lagi.”

Mahesa terdiam beberapa detik. Pandangannya tertuju ke luar jendela, deretan bangunan rendah, pepohonan dan langit yang terasa lebih luas dibanding Jakarta. “Jogja itu…” ia berhenti sejenak, mencari kata. “Tenang. Aman. Semua orang bahagia hidup di sini.”

Mahaka menangkap nada yakin di suara itu. “Termasuk lo?”

Mahesa menjawab tanpa ragu. “Pastinya.”

Mahaka tersenyum, tapi kali ini senyumnya lebih dalam, lebih reflektif. “Kalau menurut gue,” katanya pelan, “bukan tentang kotanya. Tapi tentang sama siapanya. Kalau lo nyaman sama orang itu, di mana pun kotanya, lo pasti bahagia.”

Kalimat itu meluncur begitu saja, jujur, tanpa ia sadari betapa tepatnya ia menusuk ke inti. Tangannya sedikit mengencang di setir.

Mahesa menarik napas panjang. Ada sesuatu di dadanya yang bergerak, sesuatu yang sudah lama diam. Ia menelan ludah, lalu akhirnya berbicara.

“Gue bahagia hidup sama Mas Pram,” katanya. “Walaupun tidur di kasur tipis yang bahkan gue bisa rasain lantainya.” Bibirnya melengkung samar. “Walaupun tiap makan ikan lele, satu ekor kita bagi dua. Walaupun kalau hujan, kita harus sibuk cari ember buat nadahin bocoran.”

Ia berhenti sebentar, matanya memanas tapi suaranya tetap stabil. “Gue bahagia banget.”

Mahaka tidak langsung menjawab. Dadanya terasa sesak, tapi ia tetap menatap jalan. Gambaran-gambaran itu terasa hidup di kepalanya, kesederhanaan yang mungkin bagi orang lain menyedihkan, tapi bagi Mahesa adalah rumah. Adiknya tidak sedang mengeluh. Ia sedang mengenang. Dan Mahaka cukup iri setiap kali adiknya membanggakan Pramudya. Setiap Kali Mahesa terlihat hidup  saat menceritakan masa lalunya bersama Pramudya.

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang