50. |Mahesa...|

838 128 23
                                        

All We Need Just Heal》

Mahesa

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■

Sore itu, lantai empat Gardacitya Senior High School dipenuhi cahaya jingga yang masuk dari deretan jendela kaca besar di sisi barat. Lapangan indoor sekolah dengan lantai kayu mengilap dan garis-garis putih yang masih jelas memantulkan bayangan tubuh-tubuh yang bergerak cepat. Dentuman bola basket yang dipantulkan berulang kali bercampur dengan suara sepatu yang berdecit, menciptakan irama khas latihan yang tak pernah benar-benar sunyi.

Mahesa berdiri di tengah lapangan, kaus latihan biru tua sudah menempel di punggungnya karena keringat. Napasnya sedikit berat, tapi matanya tetap fokus. Sebagai kapten tim basket Gardacitya yang sudah berhasil membawa harum nama sekolah di DBL tingkat provinsi, kini ia harus kembali berlatih bersama timnya guna menyiapkan pertandingan esok hari. Esok adalah jadwal seleksi menuju tingkat nasional dan DBL camp di Aussie. Gardacitya selalu mendapat 1 tempat menuju DBL camp. Oleh karena itu, Mahesa bekerja keras untuk melanjutkan tongkat estafet kejayaan yang kini diserahkan kepada tim nya.

“Ball movement, faster!” teriak coach carter sambil memberi isyarat tangan.

Ganesha, yang berposisi sebagai point guard, langsung menggeser langkah, mengirim operan cepat ke Dion di sayap kiri. Dion menangkap bola, berpura-pura menembak, lalu mengumpan ke Gupta yang sudah siap di paint area. Bola meluncur, memantul di papan,
dan masuk bersih ke ring.

“Nice!” seru Riqky dari luar garis tiga angka.

Coach Carter berdiri di pinggir lapangan dengan papan taktik di tangan. Pria bertubuh tinggi dengan rahang tegas itu mengamati setiap detail. Kacamata hitamnya masih bertengger di atas kepala meski latihan dilakukan di dalam ruangan.

“Again,” katanya singkat, suaranya berat. “From the top.”

“Reset,” katanya pada tim. “Fokus.”

Javier yang biasanya paling santai, kali ini tampak lebih serius. Riqky mengusap wajahnya dengan handuk kecil sebelum kembali ke posisi. Gupta mengepalkan tangan, seolah menyemangati dirinya sendiri. Latihan berlanjut dengan intensitas tinggi. Full court press. Defensive rotation. Fast break. Setiap kesalahan langsung ditegur.

“Mahesa!” suara Coach Carter memotong udara. “You’re the captain. Lead with your voice, not just your play!”

“Yes, Coach,” jawab Mahesa tanpa ragu.

Ia tahu Coach Carter tak pernah meninggikan suara tanpa alasan. Tegas, keras, tapi adil.

“Defense!” teriak Mahesa. “Switch! Switch!”

Keringat menetes dari pelipisnya, jatuh ke lantai kayu. Langit sore semakin menggelap. Langit di luar berubah dari jingga ke ungu keabu-abuan. Akhirnya, peluit panjang berbunyi.

“Breaktime. Five minutes,” kata Coach Carter. “Hydrate. No sitting too long.”

Pemain langsung menuju bangku pinggir lapangan. Botol air dibuka, handuk diambil. Beberapa merebahkan punggung sejenak ke dinding. Mahesa duduk, meneguk air, menarik napas panjang-panjang. Tangannya bergetar ringan karena lelah. Ia merogoh ponsel dari tas ketika nada deringnya menggema, menampilkan nama yang sudah lama ia kenal.

Yusri.

Mahesa mengernyit sedikit lalu mengangkat telepon. “Bang?” sapanya.

Suara di seberang terdengar hangat, sedikit berisik oleh suara kendaraan. “Sa, lagi di mana?"

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang