《All We Need Just Heal》
● Apa Sudah Jadi Saudara? ●
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■
Suara sepatu berdecit di lantai kayu, bola memantul cepat dan teriakan “switch!”, “defense!”, “cut!” bergema memantul ke langit-langit. Di atas tribun, kipas besar berputar pelan, tapi tak mampu menghalau udara lembap yang sarat dengan keringat dan helaan napas berat karena lelah.
Mahesa terlambat 17 menit karena kejadian tadi. Ia sedikit berlari. Melempar tasnya asal. Mengikat kembali tali sepatunya yang melonggar lalu bergabung ke tengah lapangan. Menghampiri Coach Carter yang sudah berdiri tegap dengan pluit dan stopwatch menggantung di lehernya.
"Sorry, Coach. Ada sedikit masalah tadi."
Semua mata beralih menatap Mahesa yang datang dengan tergesa. Semua orang tahu. Telat latihan sama dengan bunuh diri. Tidak ada ampun bagi mereka yang tidak disiplin.
Dan benar saja, Coach Carter lantas melirik jam di tangannya. "Seventeen minutes late. Seventeen laps. Full speed. No shortcuts. No walking. You stop, it starts over.”
Dion menahan napas. Bukan ia yang dihukum, tapi hanya dengan mendengarnya saja kakinya terasa ngilu. Membayangkan lari sprint 17 putaran, Dion langsung mual.
Sementara Mahesa, ia hanya mengangguk patuh. Tidak protes. Tidak mengeluh. Ia langsung menjalankan konsekuensinya. Berlari dengan kecepatan sesuai yang diminta. 17 kali dan selesai. Ia sampai di garis awal drngan napas terengah.
Coach Carter berdiri di sisi lapangan, clipboard di tangan, topi hitamnya menutupi sebagian wajah.
Hari ini, Gardacitya akan latihan besar, bukan sekadar latihan biasa, tapi sesi seleksi resmi untuk menentukan pemain inti yang akan dikirim ke kejuaraan provinsi 12 hari lagi.
“Alright, gentlemen!” suaranya lantang.
“You know what today is. This is the day you prove you deserve the jersey.”
Ia menatap satu per satu pemainnya. “I don’t care how long you’ve been here, I don’t care how old you are, today, you earn your spot.”
Para pemain berdiri tegak di barisan.
Ada Mahesa, si kapten baru yang sudah menyelesaikan hukumannya. Tubuhnya tinggi tegap ideal untuk posisinya. Di sampingnya berdiri Ganesha, senior kelas dua belas, pengatur serangan yang cerdas dan banyak bicara. Pembawa keceriaan di timnya. Lalu Gupra, pemain sayap dengan tembakan tajam tapi emosi mudah meledak. Di belakang ada Dion, pemain tengah yang kuat namun baru saja kembali usai cedera dan belasan pemain lain yang menunggu kesempatan membuktikan diri.
Coach Carter memutar peluitnya di jari. “Last year, we were champions. Gardacitya stood on top. But remember—”
Ia mengetuk papan skor. “We only won by two damn points.”
Hening.
“Two points! That's nothing! We could've lost everything if Faro missed that last shot. You think the other schools forgot that? No. They’ve been training all year to knock you off that throne.”
Carter menatap Mahesa lama.
“Now Faro’s not here to lead you anymore.”
Hening terasa makin berat. Nama itu masih menimbulkan rasa getir bagi mereka semua.
Coach carter meniup pluitnya. Menandakan pemanasan akan dimulai. Mahesa memmpin. Ia tidak kelelahan sedikit pun meski baru saja selesai berlari.
“Alright!” Carter berujar lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
Ficțiune adolescențiMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
