41. | Terlihat Abu-Abu|

1.1K 159 64
                                        

All we need just heal》

_I.N_

Terlihat Abu-Abu ▪︎

===================================

☘☘☘

Angin malam berhembus pelan, membawa aroma dedaunan basah dari taman kecil yang mengelilingi kolam renang. Air kolam tampak jernih, memantulkan cahaya lampu-lampu taman yang kekuningan. Malam itu sunyi, hampir terlalu sunyi untuk ukuran rumah megah milik Nuri, rumah seorang dokter ternama yang kekayaannya sudah lebih dari cukup untuk membuat siapa pun merasa kecil.

Mahaka duduk di bangku santai tepat di pinggir kolam. Kemejanya masih rapi, meski bagian lengannya sudah ia gulung sampai siku. Ia memijat pelipisnya perlahan sambil menatap permukaan air yang bergetar. Hari itu ia melewati serangkaian rapat di perusahaan, ditambah urusan rumor Mahesa yang belum juga selesai. Kepalanya terasa penuh. Masalah datang bertubi-tubi belakangan ini. Dari mulai kendala di Perusahaan, tingkah laku adiknya yang membuat sakit kepala dan banyak hal lain. Mahaka benar-benar tidak bisa beristirahat dengan tenang setiap malam.

Langkah Nuri terdengar dari arah pintu kaca besar yang langsung mengarah ke ruang keluarga. Wanita itu melangkah anggun mendekati bangku santai sambil membawa dua cangkir teh panas. Di bawah cahaya lampu taman, wajahnya tampak tegas namun lelah atau mungkin itu hanya raut kesal yang sudah terlalu sering ia tunjukkan sejak Mahesa tinggal bersama mereka.

“Tumben pulang kerja nggak langsung mandi?”

Mahaka menoleh, tersenyum sekilas saat Nuri berdiri di sebelahnya. Membawa satu cangkir latte hangat yang uapnya masih mengepul. Aromanya kuat, namun menenangkan.

“Masih capek, Bun. Mau di sini dulu, hirup udara segar,” Mahaka meraih tas kerjanya agar Nuri bisa duduk di sebelahnya.

“Ya gimana nggak capek, orang dapat masalah terus,” Nuri kemudian duduk di bangku kosong samping Mahaka. Meletakkan cangkir berisi latte yang ia bawa. “Minum dulu biar hangat badannya.”

“Bukannya Bunda bikin buat sendiri?”

“Rencananya,” ujar Nuri sembari merapatkan cardigan rajut yang ia pakai ke tubuhnya. “Tapi liat ada abang di sini, jadi buat abang aja.”

“Minum aja, Bun. Nanti gampang abang bikin sendiri kalau mau.”

“Kepahitan buat Bunda. Abang kan suka yang pahit karena senyumnya udah manis.”

Mahaka tertawa kecil. “Apa sih, Bun.”

“Gimana di kantor hari ini?” tanya Bunda Nuri akhirnya, memecahkan keheningan yang sejak tadi menggantung di antara mereka.

Mahaka menyandarkan diri ke kursi, kemudian mengusap tengkuknya yang terasa pegal. “Lagi banyak kendala, Bun.”

“Apa aja?” suara Nuri lembut, tetapi ada ketegasan khas seorang ibu yang ingin tahu apa yang sebenarnya membebani anaknya.

“Musim hujan tahun ini lebih panjang. Lahan pertanian di Jawa Tengah dan Sulawesi kerendam air. Panen wortel dan kentang turun hampir empat puluh persen.”

“Empat puluh?” Nuri mengangkat alisnya tinggi-tinggi, hampir tidak percaya. “Besar banget penurunannya, Bang.”

“Makanya timku dari divisi pembinaan petani lagi kelabakan. Kita harus cari sumber suplai tambahan dari luar daerah. Tapi itu juga nggak gampang, Bun. Semua orang berebut suplai yang tersisa.”

“Bukannya Abang punya kontrak dengan importir sayuran dari Australia dan Thailand?”

“Punya,” Mahaka mengangguk pelan, “tapi harga impor lagi naik gara-gara ongkos pengiriman. Kontainer makin mahal. Belum lagi pemeriksaan karantina yang ketat. Kalau satu dokumen saja kurang, barang bisa ketahan berhari-hari.”

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang