《All We Need Just Heal》
● Kerikil-Kerikil Itu ●
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■
Dua minggu berlalu sejak Mahesa pulang dari Jogja dan semua tuduhan pelecehan terhadap Kanesti dinyatakan selesai. Hidupnya kembali tenang, seolah badai besar itu tak pernah benar-benar singgah terlalu lama. Di rumah, Mahesa kembali menjadi dirinya yang pendiam, membantu seperlunya dan menghabiskan malam dengan buku atau musik. Di sekolah pun ia berjalan di koridor yang sama, duduk di bangku yang sama, tanpa bisik-bisik yang dulu menyesakkan dada. Hari-harinya mengalir biasa, aman dan normal untuk ukuran seseorang yang sempat hampir kehilangan segalanya.
Mahaka dan Andaru juga terlihat menjalani hidup seperti sebelumnya, meski ada garis-garis halus yang berubah di antara mereka. Mahaka kini tak lagi ragu menunjukkan afeksinya, entah lewat perhatian kecil atau tatapan yang terlalu lama untuk disebut biasa. Sikapnya terhadap Mahesa dan orang-orang di sekitarnya terasa lebih jujur, lebih terbuka. Sementara itu, Andaru justru semakin sering muncul, seakan takut benar-benar kehilangan ruang di sisi Mahaka. Keiriannya tak selalu diucapkan, tapi terasa jelas dalam caranya berusaha merebut perhatian Mahaka dengan cara-cara yang semakin kentara.
Bagi Mahesa, semua dinamika itu ia amati dari jarak aman, tanpa ingin terlalu ikut campur. Ia memilih fokus menjalani hari dan menjaga dirinya tetap utuh setelah semua yang terjadi. Meski begitu, bayang-bayang masa lalu kadang masih muncul di sela pikirannya. Namun, ia belajar berdamai, menerima bahwa tidak semua luka harus dipamerkan. Yang terpenting baginya sekarang adalah melangkah, meski pelan, tanpa rasa takut berlebihan.
Malam itu, suasana sekolah sudah sepi ketika Mahesa duduk di pos satpam. Lampu kuning temaram menerangi halaman yang lengang, menciptakan bayangan panjang di aspal. Udara malam terasa lebih dingin, membawa aroma tanah dan sisa hujan sore tadi. Mahesa menunggu Bian menjemputnya, tangannya sesekali mengecek ponsel yang belum juga bergetar. Ada sedikit rasa tegang, karena tujuan mereka malam ini bukan sekadar nongkrong biasa. Mereka berencana pergi ke Cafe Esias untuk menemui kakak Kanesti yang mengajak bertemu secara langsung. Ajakan itu terasa penting, sekaligus menyisakan tanda tanya di benak Mahesa. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sambil menatap jalan di depan gerbang. Dalam hatinya, ia berharap pertemuan itu benar-benar menjadi penutup yang baik, tanpa drama baru. Di tengah sunyi malam dan lampu pos satpam yang setia menyala, Mahesa menunggu, siap menghadapi apa pun yang akan datang.
Pak Deni berdiri sejenak di ambang pos satpam, memperhatikan Mahesa yang bersiap pergi malam itu. Lampu pos memantulkan cahaya ke wajah Mahesa yang terlihat lebih tenang dibanding beberapa minggu lalu. “Pulangnya jangan malam-malam ya, Sa. Nanti Abang nyariin,” ucap Pak Deni dengan nada mengingatkan, suara yang mengandung kekhawatiran tulus.
Mahesa membalas dengan anggukan kecil dan senyum tipis. “Iya, Pak. Berangkat dulu ya.”
“Hati-hati,” balas Pak Deni, sebelum akhirnya kembali duduk, yakin tapi tetap waswas.
Mobil Bian berhenti perlahan di depan pos satpam, lampunya menyala redup. Begitu Mahesa masuk, pintu tertutup dan dunia di luar terasa menjauh, menyisakan ruang sempit berisi keheningan yang nyaman sekaligus berat. Mesin mobil menyala stabil saat Bian melajukannya keluar area perumahan.
Mahesa menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menatap lampu jalan yang berderet. “Mau ngapain lagi sih?”
“Harusnya sih mau ngomongin soal bukti yang nggak dikirim-kirim, tapi nggak tau juga kalau ada yang lain,” jawab Bian datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
Fiksi RemajaMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
