32. |Entah Urusan Apa|

1.4K 153 41
                                        

All We Need Just Heal》

Entah Urusan Apa

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■


Bel tanda berakhirnya jam pembelajaran telah berbunyi tepat saat jarum pendek menuju di angka 3. Kelas berangsur lengang, siswa berjalan keluar untuk melanjutkan kegiatannya masing-masing. Hanya sisa beberapa yang masih bertahan di kelas, entah untuk piket atau kerja kelompok menyelesaikan tugas. Bian pun telah siap untuk keluar setelah mengecek kolong mejanya dan memeriksa ada barang yang tertinggal atau tidak.

“Mampir rumah gue dulu, Sa. Umi udah masak banyak katanya,” seru Bian setelah mengecek ponselnya dan mendapati kabar dari sang Ibu.

“Gue ada ngumpul bentar,” sahut Esa masih sembari merapikan barang-barangnya ke dalam tas.

“Ngumpul apaan?”

“Basket.”

“Di?”

“lapangan lantai 4,” jawab Esa singkat seraya berdiri dari duduknya. Ia menyisir rambut dengan jemarinya. “Lo duluan aja.”

Bian ikut berdiri dan mengekori Mahesa yang sudah berjalan lebih dulu. “Emang lo bawa motor?”

Mahesa menggeleng singkat.

“Terus ngapain nyuruh gue duluan?”

Mahesa menghela napasnya. Bian benar-benar terlalu banyak bicara. “Takutnya gue lama, nanti lo keburu layu.”

“Sembarangan,” Bian menoyor kepala Mahesa pelan. “Gue tunggu di ruang musik aja. Langsung telfon gue kalau udah selesai. Inget ya, Cuma rapat. Nggak boleh latihan.”

“Iya.”

“Kalau jawabnya nggak bener gini, gue ragu. Balik aja deh lo, nggak usah ikut ngumpul. Nanti gue yang izinin ke Bang Ganes.”

Mahesa berhenti sebentar. Menatap Bian tajam. Menahan emosinya karena Bian terlalu berlebihan. Tapi ia sadar, Bian yang seperti ini memang bawaan dari lahir.

“Pergi apa gue tonjok?”

Bian terbahak. Lalu merangkul sahabatnya. “Santai dong. Mending lo tonjok Daru tuh.”

Mahesa berusaha melepaskan diri dari rangkulan Bian yang terlampau erat. “Ngapain?”

“Ya tonjok aja. Muka dia nyolot soalnya.”

“Udah sana ah,” Mahesa mendorong Bian dan berjalan cepat meninggalkan anak itu. “Gue ke atas dulu.”

“Iya, kalau udah kelar langsung telfon ya, Shayy?”

“Najis!” sentak Esa sembari berlalu. Benar-benar meninggalkan Bian yang terbahak di belakangnya.

Lapangan indoor di lantai empat SMA Gardacitya sore itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Biasanya, suara pantulan bola basket dan tawa para pemain memenuhi udara, memantul di antara dinding-dinding tinggi dan lantai kayu mengilap. Tapi kali ini, yang terdengar hanya desau angin dari ventilasi dan derit sepatu ketika satu per satu anggota tim masuk dan duduk melingkar di tengah lapangan.

Mahesa datang paling akhir. Seragam olahraganya sudah agak kusut, rambutnya sedikit basah oleh keringat karena naik dari lantai 1 ke lantai 4 dengan kondisi tubuh yang belum fit sepenuhnya. Ia duduk di antara Ganesha dan Gupta, matanya tertuju pada sosok pelatih mereka yang berdiri di depan: Coach Carter.

Coach Carter adalah pria paruh baya dengan postur tinggi, bahu bidang dan suara berat yang biasanya terdengar tegas tapi hangat. Hari itu, wajahnya tampak berbeda, tidak ada guratan semangat seperti biasanya. Ada kelelahan di sana dan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar lelah fisik.

INCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang