36. |Lara Siapa|

1K 118 55
                                        

All We Need Just Heal》

Lara Siapa

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■

Matahari belum tinggi saat Gardacitya International High School mulai melakukan rutinitasnya. Langit pagi bersih dengan semburat oranye lembut, udara masih dingin dan embun menempel tipis pada pagar besi yang mengelilingi lapangan. Dari kejauhan, gedung sekolah terlihat mewah dan hidup, lapangannya luas dan terdengar langkah kaki siswa yang sibuk berbaris karena memasuki mata pelajaran olahraga. Mata pelajaran yang diampu oleh seorang guru laki-laki berpostur tinggi tegap, kulit putih bersih dan rambut hitam yang selalu tertutupi topi. Guru yang paling banyak digandrungi oleh siswi Gardacitya karena masih muda dan berkarisma.

Damar dari XI IPS 1 memimpi pemanasan. Ia menginstruksikan teman-temannya untuk melakukan gerakan sesuai dengan yang ia contohkah. Pemanasan dimulai. Kepala menunduk, pundak digerakkan, tubuh diputar ke kiri dan kanan. Suara hitungan Pak Mathius memimpin ritme mereka. “Satu, dua, tiga, empat… putar lagi! Jangan malas, otot kalian harus lentur!”

Suara sepatu yang bergesek dengan tanah lapangan dan deru napas para siswa berpadu jadi irama pagi yang khas. Setelah peregangan, mereka berlari kecil mengelilingi lapangan. Angin mulai membawa aroma tanah yang lembap dan keringat yang baru mengalir. Bunyi nyaring peluit terdengar saat terlihat ada siswa yang mulai berjalan malas. Lima putaran dengan kecepatan sedang. Tidak ada pengecualian bagi siapa pun yang masih dapat berdiri di lapangan.

Mahesa berada di sana. Mengikuti pelajaran olahraga walaupun semalaman ia tidak dapat tertidur lelap. Mual dan nyeri di perutnya masih terasa meski tidak seperti semalam. Wajahnya sudah jauh lebih segar. Pagi tadi, Andaru dan Mahaka sempat membujuk Esa agar tidak perlu masuk sekolah karena terlihat sedikit pucat. Namun, bagi Mahesa, berada di rumah saat Nuri dan Mahaka libur bukanlah pilihan yang tepat.

Setelah lima putaran, peluit Pak Mathius terdengar keras. “Berhenti! Tarik napas dalam-dalam!”

Semua berhenti, menunduk, lalu mengatur napas. Mahesa menengadah sejenak, memandangi langit biru yang mulai terang. Di tengah rasa lelah dan sisa nyeri di perutnya, ada rasa tenang saat ia bisa menikmati embusan angin yang menerpa kulitnya.

“Bian mana? tumben nggak keliatan?”

Mahesa menoleh saat Endo berbicara padanya. “Ikut bokapnya ke Amsterdam.”

Endo hanya mengangguk paham. Endo adalah ketua kelas XI IPA 3 yang tegas.

“Alright, listen up!” suaranya menggema dengan aksen Inggris yang masih terasa meski ia sudah lama mengajar di Indonesia.

Suara lantang Pak Mathius memecah suasana. Guru olahraga itu mengenakan topi hitam dan peluit perak di lehernya. “Hari ini kita akan ambil nilai permainan basket. Saya ingin lihat hasil latihan kalian selama ini.”

Beberapa siswa langsung bersorak kecil, ada yang menepuk punggung temannya, ada yang menarik napas panjang. Mahesa hanya diam, mengamati ring basket dan garis tiga poin di bawahnya.

Pak Mathius melanjutkan, “Mahesa, maju.”

Beberapa pasang mata langsung menoleh ke arahnya. Mahesa melangkah ke depan tanpa ragu. Ia tidak menunjukkan ekspresi apa pun, hanya menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat, lalu berdiri di tengah lapangan dengan bola di tangan.

“Baik,” kata Pak Mathius sambil melangkah mendekat, “Tunjukkan urutan dasar permainan, mulai dari dribbling, passing dan shooting. Lakukan dengan benar.”

INTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang