45. | Mulai Hangat |

1.3K 151 38
                                        

All We Need Just Heal》

● Mulai Hangat

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■

Suara dentuman bass mengguncang dinding GOR Soemantri Brodjonegoro sejak satu jam sebelum pertandingan dimulai. Spanduk-spanduk besar membentang dari tribun ke tribun, warna merah-hitam Gardacitya International High School beradu visual dengan biru-emas milik Canvesius International High School. Drum band berdentam, terompet bersahutan, yel-yel saling tindih. Udara di dalam gedung terasa panas, bukan hanya oleh ribuan tubuh yang berkumpul, tapi oleh ekspektasi yang menggantung tebal di langit-langit arena.

Final DBL tingkat Provinsi DKI Jakarta.

“GAR-DA-CI-TYA! GAR-DA-CI-TYA!”

Mahesa berdiri di lorong pemain. Headband hitam melingkari dahinya, menahan rambut yang sudah basah oleh keringat padahal pertandingan belum dimulai. Napasnya ia atur. Satu tarikan panjang, satu hembusan perlahan.

Ia menunduk sebentar, menatap sepatu basketnya. Merah, dengan aksen emas. Sepatu yang dibeli dengan cucuran keringat kakaknya.

Empat puluh menit pertandingan resmi, dibagi dalam empat quarter masing-masing sepuluh menit, aturan FIBA remaja: 24-second shot clock, 8-second violation untuk melewati garis tengah, 5 personal foul berarti keluar, dan bonus free throw setelah tim lawan mencapai jumlah foul tertentu.

Di lorong pemain, Mahesa berdiri paling depan. Headband hitam melingkar di kepalanya, menahan rambut dan keringat yang bahkan belum sempat jatuh. Tangannya mengepal. Napasnya teratur, tapi dadanya berdegup keras. Di belakangnya berdiri para penjaga garis hidupnya di lapangan.

Ganesha, power forward—post player utama, penguasa paint area, spesialis rebound ofensif dan screen keras.

Gupta, center—rim protector, penjaga ring, tubuhnya tembok terakhir pertahanan.

Dion, shooting guard—penembak jarak menengah, tenang, efisien.

Riqky, small forward—pemotong cepat, transisi offense, rajin steal.

Nevan, point guard cadangan—pengatur tempo kedua, vision tajam.

Ryuka, sixth man—energizer, defense agresif, spesialis hustle play.

Mahesa sendiri—point guard utama dan kapten, otak permainan. Pengatur ritme, pembaca celah, pemimpin di tengah kekacauan.

Mahesa menarik napas lagi. Lalu melangkah. Saat mereka memasuki lapangan, suara tribun naik satu tingkat. Mahesa mengangkat tangan, sekadar memberi isyarat singkat ke arah tribun Gardacitya. Di barisan penonton, Mahaka berdiri paling depan. Tangannya terkepal, matanya berbinar.

“Itu adik gue,” katanya bangga.

Di sampingnya, Bian tersenyum lebar. “Loo deeh… iya deehh si paling adek!” katanya mengejek.

Tak jauh dari mereka, Alfaro duduk tenang. Mantan kapten legendaris Gardacitya. Sosok yang dulu, bahkan hanya dengan melihatnya  berdiri di lapangan, lawannya gemetar. Satu-satunya pemain dari Jakarta yang berhasil mendapat kesempatan training camp di Canada. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari dulu, tapi sorot matanya masih sama, tajam, penuh perhitungan. Ia menatap Mahesa lama, lalu mengangguk kecil.

INCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang