28. | Pilihannya |

3K 240 64
                                        

All We Need Just Heal》

Pilihannya

■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■

Ruang rawat Mahesa semakin sunyi. Hanya suara detak jarum jam dan gesekan dari tirai jendela yang berkibar tertiup angin dari celah yang sedikit terbuka. Sisa cahaya matahari sore menyusup masuk. Mengenai wajah Mahesa yang sedang terduduk di atas ranjangnya sembari memainkan ponsel. Ketara jelas menghindari tatapan Bian.

Beberapa menit lalu, Bian datang bertepatan dengan seorang perawat yang tengah melepas infusan di tangan sahabatnya. Hari ini, Mahesa telah diperbolehkan pulang bersyarat. Tidak boleh bannyak aktivitas, menjaga pola makan, menjaga kesehatan mental dan pikiran yang dapat memicu kekambuhan pada gerdnya. Bian mendengar dan merespon dengan baik ketika perawat berkata bahwa Mahesa hanya tinggal menunggu berkas administrasi selesai diurus saja. Namun, raut wajah Bian berubah seketika saat melihat lebam biru keunguan di pipi Mahesa. Terlalu mencolok di wajahnya yang masih pucat. Maka, setelah perawat pergi meninggalkan ruangan, Bian memilih untuk duduk di sofa sembari menatap Mahesa tajam.

“Lo nggak ngerasa harus jelasin sesuatu?” nada bicaranya sudah tak bersahabat.

“Nggak.”

Bian berjalan mendekat ke ranjang Esa dan mengambil ponsel anak itu paksa. Kini tatapan mereka bertemu. Dari jarak sedekat ini, urat-urat kemerahan di lebamnya sangat terlihat. Semakin memantik amarah Bian. “Perlu gue cek cctv kalau lo nggak mau ngaku?”

“Gue jatuh.”

Bian mendengus lalu tertawa sumbang. “Bego kali gue,” Bian lantas meraih dagu Mahesa, menghadapkan wajah yang mulai berpaling itu ke arahnya. Berusaha melihat lebih jelas. Dan Bian semakin yakin, lebam ini adalah bekas pukulan. Tangannya ditepis pelan oleh Mahesa. “Jadi?”

“Jatuh,” jawaban Mahesa tetap sama. “Gue habis dari kamar mandi, buang air. Pala gue pusing pas bangun dari closet, jadi jatuh. Pipi gue kena gagang shower jadi biru.”

"Oke. Kalau gitu gue lapor perawat sekarang biar lo nggak jadi pulang."

"Nggak bisa gitu lah!" Mahesa mencekal tangan Bian yang sudah hampir pergi ke luar dan melapor pada perawat.

"Jadi?" tanya Bian sekali lagi.

"Jatuh."

Bian menghela napas kesal. “Daru kan?”

Bian melihat air wajah anak itu berubah. Esa terpejam sebentar. Gerakan kecil yang cukup memberikan jawaban pada pertanyaan spontannya.

“Emang anjing!” Bian mengusak wajahnya. Emosi meletup di hati dan pikirannya. Tak terbayang sedikit pun di otaknya kalau ada orang setega dan sekeji Andaru. Berani datang ke rumah sakit hanya untuk menyakiti orang yang sedang tak berdaya. “Biar gue samperin!”

“Diem, Bi….”

Pergelangan tangan Bian dicekal kembali saat akan berjalan keluar. Suara Mahesa terdengar terlalu lelah untuk marah dan terlalu hampa untuk membela diri.

“Nggak ada harga diri lo ya masih ngelindungin dia setelah ditonjok kayak gini?!” Bian menatap Mahesa nyalang setelah menarik tangannya. “Lagi juga kenapa diem-diem aja?! ngadu tolol! teriak! pencet bel panggil suster! di sini banyak perawat yang bisa bantu lo!”

“Gue nggak ngelindungin. Gue Cuma mau lo diem, nggak usah ngapa-ngapain. Udah cukup,” sahutnya.

He’s against you for no damn reason, Sa!” Bian duduk berhadapan dengan Mahesa di atas ranjang. Emosi semakin menyala di dadanya. “Mahaka harus tau. Kalau dia sampai diam aja dan nggak berani negur si bangsat, nggak ada lagi lo tinggal di sana. Ikut gue ke rumah.”

INCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang