《All We Need Just Heal》
● Pelindung ●
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■
Nama Mahesa sempat berdiri di tepi jurang yang tak ia pilih sendiri. Dalam hitungan hari, namanya yang dulu hanya dikenal sebagai siswa pendiam dan berprestasi berubah menjadi bisik-bisik di lorong sekolah, judul sensasional di portal-portal Gardacitya dan bahan perdebatan di kolom komentar yang tak mengenal empati. Tuduhan pelecehan yang diarahkan padanya datang seperti badai, tiba-tiba, ganas dan nyaris meluluhlantakkan semua yang ia bangun selama ini.
Tak ada yang benar-benar siap menghadapi bagaimana cepatnya prasangka menyebar. Mahesa ingat betul hari ketika tatapan orang-orang berubah. Guru-guru yang biasanya ramah menjadi canggung, teman-teman yang dulu bercanda dengannya kini memilih menunduk atau menjauh. Bahkan langkah kakinya terasa lebih berat setiap kali melewati gerbang sekolah, seolah tanah di bawahnya ikut menghakimi. Ia diam, bukan karena bersalah, tetapi karena tak tahu harus berbicara pada siapa di tengah hiruk-pikuk tudingan.
Di tengah kekacauan itu, Kanesti berdiri sebagai sosok yang dikasihani. Ceritanya menyentuh emosi public, tentang ketakutan, trauma dan keberanian untuk bersuara. Banyak yang langsung percaya. Karena di dunia yang lelah oleh ketidakadilan, cerita korban sering kali lebih mudah diterima daripada proses panjang mencari kebenaran. Mahesa menjadi nama yang harus dibenci agar rasa marah publik menemukan tempatnya.
Namun kebenaran, tidak pernah sepenuhnya mati. Perlahan, upaya mengurai simpul kebohongan dimulai. Pihak hotel tempat kejadian yang disebut-sebut dalam tuduhan itu membuka arsip mereka. Lorong-lorong sunyi yang sebelumnya hanya dilewati tamu kini menjadi saksi bisu yang berbicara melalui rekaman CCTV. Detik demi detik diputar ulang. Wajah-wajah, arah langkah, waktu dan jarak, semuanya tersaji tanpa emosi, tanpa niat memihak. Hanya fakta. Rekaman itu menunjukkan sesuatu yang bertolak belakang dengan narasi yang beredar. Tidak ada sentuhan yang dituduhkan, tidak ada adegan yang dipelintir. Berita acara dari pihak hotel menyusul, dokumen resmi yang mencatat waktu, lokasi dan kesesuaian rekaman dengan kesaksian staf. Keping demi keping kebenaran mulai tersusun.
Lalu datanglah pengakuan yang mengubah segalanya. Rekaman suara Kanesti tersebar, awalnya samar dan diragukan. Namun setelah diverifikasi, suaranya terdengar jelas, tenang, sadar dan tanpa paksaan. Dalam rekaman itu, ia mengakui bahwa tuduhan tersebut adalah jebakan. Kata-katanya jatuh satu per satu, berat dan tak bisa ditarik kembali. Ia mengaku terobsesi pada Mahesa, pada bayangan memiliki seseorang yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya. Dalam keputusasaan yang salah arah, ia memilih jalan yang paling melukai, menghancurkan nama orang lain demi memenuhi kekosongan dirinya.
Gardacitya bergemuruh. Portal-portal media sosial yang resmi maupun yang selama ini bergerak di wilayah abu-abu, mengunggah bukti-bukti itu serempak. Tangkapan layar CCTV, kutipan berita acara hotel dan potongan rekaman suara menjadi arus yang tak terbendung. Judul-judul berubah arah. Dari “Tuduhan Mengguncang Sekolah” menjadi “Kebenaran Terungkap.” Dari amarah menjadi keterkejutan. Kolom komentar yang dulu penuh caci maki perlahan bergeser nadanya. Banyak yang menuliskan penyesalan, mengakui betapa mudahnya mereka menghakimi tanpa menunggu fakta. Ada yang meminta maaf, ada yang hanya menulis satu kalimat sederhana: Kasihan Mahesa. Kalimat itu mungkin pendek, tapi mengandung kesadaran bahwa empati seharusnya mendahului vonis.
Mahesa membaca semua itu dengan perasaan campur aduk. Lega, tentu saja. Tapi juga lelah. Kebenaran memang akhirnya berdiri di sisinya, namun bekas luka dari hari-hari kelam itu tak serta-merta hilang. Ia menyadari betapa rapuhnya reputasi, betapa cepatnya dunia memutar arah dan betapa sunyinya seseorang ketika diseret ke ruang penghakiman tanpa pembelaan. Di sekolah, suasana berubah. Orang-orang yang dulu menghindar kini berani menatapnya lagi. Beberapa datang meminta maaf, beberapa hanya tersenyum canggung. Guru-guru berbicara lebih hangat, seolah ingin menebus jarak yang sempat tercipta. Namun Mahesa tak menuntut apa-apa. Ia memilih diam, seperti biasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
Teen FictionMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
