60. Cinta terakhir

3.1K 150 30
                                        

Kalau lupa ceritanya baca ulang saja, disarankan membaca chapter ini malam hari, jangan pada saat jam kerja takutnya kalian pipis di tengah jalan !

Aletta Pov 

Cahaya matahari yang menyusup masuk melalui celah tirai membuatku perlahan membuka mata. Badanku masih terasa pegal, remuk tapi senyumku tak bisa berhenti mengembang. Rasanya baru kali ini aku bangun tidur dengan perasaan sebahagia ini.

Oh Tuhan ini rasanya menjadi istri seutuhnya, dicintai, mencintai lengkap sudah hidupku setelah perasaanku terbuka padanya,

Aku mengangkat kepala, menatap sekeliling kamar… dan langsung menutup mulutku sendiri, menahan tawa lagi dan lagi,

“Astaga… kita beneran segila itu, ya…” gumamku 

Ranjang besar yang biasanya kokoh kini salah satu kakinya sepertinya sedikit patah, karena agak miring sedikit ke bawah. Sprei sudah acak-acakan, bantal berserakan sampai ke lantai. Di balkon pun masih ada selimut tipis tergeletak sembarangan, saksi bisu betapa semalam aku dan mas Dipo saling melampiaskan rindu.

Pipiku memanas sendiri, mengingat kembali betapa liar dan intensnya mas Dipo semalam. Aku menggigit bibirku, senyum malu-malu bercampur rasa puas, 

“Sejak melahirkan… baru kali ini aku bisa melayani Papi lagi. Ternyata rasa rinduku pada dia numpuk sebanyak ini…” batin ku terus bicara 

Kemudian ku menoleh ke samping, melihat tubuh mas Dipo yang masih terlelap. Nafasnya teratur, wajahnya tenang, sama sekali tak menunjukkan kalau semalam dia begitu dominan dan membuatku nyaris menyerah berkali-kali.

Aku mengelus pelan wajahnya, membisikkan kata yang hanya boleh kudengar sendiri.

“Papi… suamiku… makasih udah sabar nunggu. Aku bahagia banget… rasanya lengkap lagi jadi istrimu.”

Aku menyelipkan tangan untuk merapikan poni Dipo yang menutupi mata. Mas Dipo bergumam kecil, separuh sadar.

Ah Tuhan...aku sudah gila banget, maafkan aku mencintai ciptaanmu sebegitu besarnya,

Ada rasa syukur yang meluap di hatiku.

Aku memejamkan mata sejenak, mengingat wajah anak anakku Samudra dan Muara.

“Anak-anak pasti baik-baik aja di sana. Kalian beruntung punya Papi yang luar biasa… yang nggak hanya tanggung jawab di luar sana, tapi juga cinta banget sama kita.”

Aku menarik selimut, merapat ke tubuh mas Dipo, mendekapnya erat dari samping.

“Aku janji, Pi… aku bakal selalu jadi istri yang kuat buatmu. Kamu bener-bener segalanya buat aku.”

Kamar yang masih berantakan ini terasa seperti bukti nyata betapa kami saling mencintai. Dan bagiku… tidak ada momen yang lebih indah daripada pagi ini.

Aku menahan tawa kecil lalu ku memeluk manja suamiku yang masih tertelungkup belum juga membuka mata,

"Pih... Masih ngantuk yah sayang?" Bisikku sambil mengusap rambutnya, aku memeluk saja sudah dipastikan kulit kami saling menempel apalagi payudara montok dan kemaluanku sengaja ku tempelkan agar dia bangun,

Ku rasa mas Dipo bergerak pelan, matanya terbuka setengah. Ia langsung tersenyum kecil saat menemukan wajahku yang sedang disisinya, 

"Udah bangun?” tanya ku pelan,

“Hmm… belum,” jawab mas Dipo dengan suara serak, masih memejamkan mata.

Ku terkekeh. “Itu tadi siapa yang jawab?”

Teman hidup Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang