Enzi Pov
Malam itu aku mendengar suara teriakan dari seorang pria, sepertinya memaki entahlah aku kurang paham karena aku sedang mabuk,
Aku hanya berdiam diri di dalam mobil mas Dewa, lama kelamaan yang buat ku penasaran perdebatannya semakin tak terkontrol,
Dengan sekuat tenaga aku bangkit dari tiduran di mobil menjadi menonton apa yang terjadi lewat jendela mobil,
Namun belum ku nikmati tontonannya sudah ada suara tembakan, aku terkejut seketika menutup mulutku,
"Mas Dewa...." Aku menjerit dalam hatiku dan seketika air mataku mengalir melihat kejadian naas itu.
Rangkaian cerita Sebelum kejadian naas itu,
Dipo Pov
Ini sudah parah mengangguk fikiranku sepertinya aku harus segera bicara dengan Enzi yang selama ini ku tahan tahan,
Apalagi beberapa waktu lalu dia berani mengirim foto dan video tak senonohnya,
Sialan banget kan,
Aku sempat konsultasi kepada Gyana mengenai kondisi tubuhku yang gampang pusing akhir akhir ini, katanya aku terlalu banyak fikiran, dan terlalu capek sepertinya harus diistirahatkan,
Tapi memang benar sih fikiranku sekarang bercabang kemana mana, mengenai identitas, mengenai jual beli senjata, mengenai Enzi, tumbuh kembang Muara yang aku khawatirkan juga
Ditambah oma Jamila yang akhirnya dia dipaksa ikut dengan papa ke mansion, mereka dipisahkan,
Sampai akhirnya memang seperti ini, Oma Charlotte menetap di rumah desa bersama om Rudi,
Tapi mereka masih bisa bertemu dimana lewat anak anakku, mereka akan mengajak buyutnya jalan disanalah mereka bertemu,
Kadang di rumahku, kadang di taman dekat mansion, atau kadang di mansion itu sendiri dengan cara mafianya oma Charlotte, tanpa sepengetahuan papa mertuaku,
Memang aku akui ada saja tingkah Oma Charlotte, seperti mafia kelas kakap hal kecil sebenarnya untuk bertemu dengan Oma Jamila,
Mereka hanya saja sedang mengikuti kemauan papa mertuaku, agar fokusnya tetap ke kerjaan dan keluarga,
Sejujurnya kalau mertuaku fikirannya bercabang dia akan semakin semena mena tak bisa fokus,
Aku paham karena aku juga merasakan hal seperti ini sekarang, apakah gampang halusinasi dan emosi efek hawa kerjaan di dunia gelap? Entahlah aku belum mengerti, tentang psikologi manusia,
Kini anak anakku sudah tumbuh besar dan sehat, kami banyak melewati hal hal manis, ulang tahun istriku kami tidak merayakan karena masih berkabung atas meninggalnya opa saat itu, termasuk ulang tahunku dan si kembar yang beda sehari kami tak ada perayaan megah, hanya saja bagi makanan untuk yang membutuhkan
Berlibur pun akhirnya tidak jadi sampai melewati setahun anakku, itu sudah keputusan bersama, tapi papa mertuaku selalu memaksa harus, aku untuk sementara mengiyakan saja, biar dia diam sebentar,
Enzi masih saja dengan tingkahnya,
Dan untuk pekerjaaan gelapku ku akui mulai terasa sangat berat, sebenarnya aku harus waspada ternyata ada beberapa anak buah papa berseliweran melihat gerak gerikku,
Kenapa aku tahu karena pas aku ngajak jalan istri anakku yang sudah mulai aktif kadang berjalan dan jatuh di taman ada beberapa yang sigap menolongnya,
Aku awalnya menyangka itu warga tapi setelah di lihat lihat mereka seperti Intel penampilannya,
Entah lah aku kan suka memperhatikan sekitar, sempat aku tanya kepada istriku dia kan memang dari dulu diikuti bodyguard pas masih belum melihat,
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman hidup
Fiksi UmumKisah si kembar beda gender dan wanita buta, Lgbt story Cover by @indie_neeh
