Sudah 3 hari Dipo di rawat di rumah sakit, yang terdengar hanya suara alat rumah sakit, sisanya suara pintu terbuka keluar masuk,
Dipo belum sadarkan diri setelah kejadian naas itu banyak luka di sekujur tubuh Dipo, banyak memar terutama area bawah perut,
Ngeri dan ngilu jika melihat, tapi beruntung tidak ada tulang yang bergeser hanya saja luka dalam yang di derita tubuh Dipo,
Ruangan itu sangat teramat sunyi, untuk sosok manusia yang banyak dicintai, tapi hanya ada satu sosok yang hampir setiap malam berkunjung di ruangan Dipo,
Mertuanya,
Hampir setiap malam yang sunyi sudah 3 harian ini beliau tidak absen melihatnya di jam jam malam, dia berkunjung tidak lebih dari setengah jam saja,
Dia akan datang kerumah sakit itu ditemani bodyguard-nya yakni Roy, tapi ketika di dalam ruangan dia akan duduk sendirian menghadap ranjang yang penuh dengan alat medis,
Sambil melihat jamnya dia hanya menunduk, tidak bicara apapun sesekali melihat wajah menantu yang dia banggakan selama ini,
Namun fakta terungkap, yang dibanggakan justru sosok yang dia benci dan ternyata pengkhianat, bukan fisiknya tapi orientasi sexualnya,
Mertuanya seperti punya trauma sendiri dengan orientasi sex menyimpang, jelas karena lesbian membuat dia kehilangan kedekatannya dengan ibunya,
Tapi entah di masa lalu apa yang terjadi sehingga mertuanya sangat homopobik, yang pasti setiap malam selama setengah jam, selain duduk mertuanya akan berdiri hanya melihat dari ujung kaki dan rambut Dipo,
Kadang dia beralih berdiri sambil menodongkan senjata kekepala Dipo,
"Sudah sedetail ini saya mengenal dia, ternyata masih saja bisa di bodohi" mungkin itu yang menggerutu di hatinya, sambil minum wiski dari benda pipih yang diambil dari sakunya, yakni hip flask
Wajahnya tegang dia mengeratkan rahangnya sampai suara pertemuan gigi terdengar, orang tua itu sangat amat kecewa,
Nampak dari guratan urat leher dan wajahnya, ditambah sorot matanya yang tajam,
Pelatuk senjata sudah ditarik bahkan keringat nya pun sudah mulai muncul saking geramnya, dan kecewanya kepada dipo dia ingin membunuh nya sekarang juga
"Saya bersumpah tidak akan mengulangi karma," mungkin yang dimaksud tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, yakni membiarkan ibunya bersama wanita yakni Charlotte bertahun tahun,
"Kali ini darah daging saya akan diselamatkan" otaknya berputar hanya seputaran itu hanya bayangan pengkhianatan dari orang yang sangat di percayai,
"Seharusnya kamu mati di awal Dipo, tapi saya tidak suka kalau perang tanpa perlawanan, saya tidak mau melihat mu tanpa penderitaan, kamu harus mendapatkan akibat dari perbuatan yang menyimpang ini, apalagi sampai memakan korban"
Yah... Papa Chedid merasa anaknya adalah korban manipulasi Dipo selama ini karena dia meyakini kalau Aletta normal,
Hanya saja dulu Aletta buta mungkin. Jadi keterbiasaan dengan Dipo,
"Maaf tuan, saya sudah dapatkan apa yang tuan ingin kan" di celah pikirannya di dalam ruangan yang hening itu suara Roy membuyarkan
Papa Chedid langsung melangkah ke arah Roy, tepat berhadapan dengan ranjang Dipo,
Nampak Roy memberikan sesuatu berkas kepada tuan Chedid, sebelum pergi dari ruang sunyi itu dia sempat melihat ke arah Dipo yang masih terpejam,
"Kamu harus mendapatkan yang hal yang setimpal Dipo" batinnya, lalu pergi begitu saja,
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman hidup
Narrativa generaleKisah si kembar beda gender dan wanita buta, Lgbt story Cover by @indie_neeh
