63 . Papa Dewa, mama Enzi

1.6K 121 19
                                        




Aletta Pov

Beberapa minggu setelah opa meninggal aku melanjutkan aktivitasku sebagai ibu rumah tangga, Oma semua masih tinggal di desa katanya mereka belum mau pulang ke Holland masih ingin melihat berkunjung ke makam Opa,

Dan ada kemungkinan mereka tak akan kembali kesana, pekerjaan bisnis Opa dan Oma Charlotte sudah ada yang menghandle anak buah Oma Charlotte jadi tak perlu difikirkan,

Yang sekarang harus dipikirkan yakni aku dengar kalau Oma Jamila selalu di ajak papaku untuk pulang ke mansion,

Tapi berkali kali Oma menolak semua permintaan papa, aku kasihan sama Oma dan gak habis fikir dengan papa,

Dia berani seperti itu karena kadung bencinya terhadap Oma Charlotte, pas sempat di desa ketika kami belum balik ke kota, papa akan menjemput paksa Oma Jamila, aku melihat dengan mata kepala sendiri betapa sadisnya perlakuan papa kepada Oma,

Sore itu rumah desa memang terasa tenang, aku sedang menggendong Muara, sementara Samudra tidur dalam ayunan.

Tante Ningsih menyiapkan teh untuk papa dan om Rudi mereka lagi bicara di teras, sepertinya mereka bersitegang kulihat,

Bahkan ku sempat menguping apa yang dibicarakan sambil mengasuh anakku,

Memang sore itu papa hanya sendiri ditemani bodyguard saja ke desa ini,

"Mas jangan ambil keputusan sendiri, mama itu masih berduka" kata om Rudi yang ku dengar,

"Rud, saya mau ambil mama dia ikut saya ke mansion" astaga papa akan memisahkan Oma ternyata, om Rudi masih menjegal apa yang diinginkan papa, tapi bodyguardnya sudah dipaksa untuk membongkar pakaian Oma dan lain lain untuk dimasukkan kekoper

Om Rudi menghela napas panjang. Dia sudah menduga hal ini, begitu pandangan dari ku, semua pada melihat Oma entah kenapa diam saja biasanya dia akan cerewet, mungkin energinya tak ingin habis untuk berdebat dia hanya menunduk saja seperti menahan tangis sambil duduk,

"Mas... jangan gitu. Mama nggak mau pergi dari sini"

Papa ku mengabaikan,

"Kamu terlalu lembek. Mama tinggal dengan orang... yang tidak seharusnya, mana kamu ngizinin lagi"

Sepertinya om Rudi langsung mengerti arah pembicaraan itu sajahnya mengeras.

"Mas, jangan bawa-bawa itu lagi. Mama bahagia sama Charlotte di sini disisa umur mereka."

"Bahagia?" suara papa ku meninggi.

"Rudi, sadar. Itu tidak normal!"

Tante Ningsih yang tadinya diam ikut mendekat.

"Mas Chedid... ini rumah duka. Jangan ribut, takutnya tetangga dengar tolong tenang "

"Tetangga memang harus dengar!"

Papa ku semakin emosi.

"saya tidak mau mama makin jauh terpengaruh oleh-"

Papa berhenti ketika melihat ku mendekat menggendong Muara Dia tidak mau marah di depan cucunya, jadi suaranya direndahkan sepertinya

"Papa biarkan Oma disini dulu, disini aman kok"

"Kamu tidak usah ikut campur nak, ini urusan papa" aku sempat bicara lagi tapi dihentikan sama papa jadi aku diam,

"Dengar semuanya saya hanya ingin mama pulang. Itu kewajiban saya sebagai anak sudah cukup mama tinggal jauhan sama saya."

Om Rudi menggeleng keras.

Teman hidup Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang