Sore ini diperumahan Aletta ada satpam baru yang baru beberapa hari bekerja, nampak dia sedang menerima tamu yakni seorang kurir pengirim bunga atau tanaman gitu, dimana bunga/tanamannya sangat besar,
Dan menanyakan salah seorang alamat penghuni perumahan tersebut kepada satpam baru itu,
Sementara satpam senior sedang menerima telpon dan sangat serius, satpam junior lagi garuk garuk kepala karena dia belum hafal nama jalan diblok perumahan tersebut apalagi area areanya juga, kurir memang sedang mencari alamat Dipo Dewangga untuk krirman bunga dari seseorang,
"Pak dimana gangnya?" tanya si kurir pas mau jawab, tiba tiba dia dipanggil
"Sebentar atasan manggil" katanya, kurir pun menunggu dengan kesal juga, ternyata si satpam diperintahkan untuk memberi tahu pihak marbot masjid dan pengurus kematian untuk mengumumkan ada yang meninggal,
Pas keluar lagi dia sambil menghafalin nama orang yang meninggal itu,
"Pak...udah tau gangnya rumah bapak Dipo Dewangga" satpam menghela nafasnya,
"Ini lebih urgent, ada yang meninggal, kau tanya sama atasanku aja yah" katanya dia langsung berlari ke motornya untuk memberitahukan ada yang meninggal.
----
Di perumahan Aletta terdengar suara pemberitahuan kalau ada yang meninggal, semua orang shock kalau mas Dipo meninggal,
Si family man yang terkenal sangat di sukai ibu ibu, mereka akan melayat ke rumah tersebut,
Enzi Pov
Seminggu setelah kejadian mengerikan itu, aku tidak bisa berfikir positif tentang mas Dewa, ternyata hidupnya sangat berat,
Dan selama seminggu ini pula aku selalu menemani anak kembar mas Dewa,
Hanya sekedar membantu merawat nya karena Aletta yang meminta bantuanku juga, jadi hari ini sudah tepat seminggu aku bersama si kembar di rumah mas Dewa,
Menjelang sore ini aku mengasuh anak bersama anakku juga, tiba tiba ada pemberitahuan dari masjid,
Tak mengira aku shock sekali mendengarnya, sambil ku gendong Muara dan bu Mar juga gendong Samudra, sementara Giza sedang bermain,
Kami keluar menuju teras, disana sudah ada beberapa ibu ibu untuk melayat datang ke rumah mas Dewa,
"Hu..hu...hu....," ada yang menangis ada yang sambil ngoceh bertanya apakah mayatnya mas Dewa sudah datang dan lain lain,
"Ya ampun anak sekecil ini ditinggal bapaknya, yang sabar yah nak" mereka pada mengasihani si kembar, sementara si kembar sangat risih di usap usap para ibu-ibu,
Aku pun melihat sekeliling ada satu orang datang, ternyata kurir dia akan memberikan satu paket bunga dan tanaman besar atas nama Dipo Dewangga,
"Ya ampun bang, orangnya baru meninggal" jawaban dari ibu-ibu sambil menangis, aku masih berdiri kaku saja sambil gendong Muara,
Sebelum pengumuman mas Dewa meninggal, aku mau ceritakan dulu kejadian seminggu lalu di malam itu,
Malam itu aku mendengar suara teriakan dari seorang pria tua, sepertinya memaki entahlah aku kurang paham karena aku sedang mabuk,
Aku hanya berdiam diri di dalam mobil mas Dewa, lama kelamaan yang buat ku penasaran perdebatannya semakin tak terkontrol,
Dengan sekuat tenaga aku bangkit dari tiduran di mobil menjadi menonton apa yang terjadi lewat jendela mobil,
Namun belum ku nikmati tontonannya sudah ada suara tembakan, aku terkejut seketika menutup mulutku,
"Mas Dewa...." Aku menjerit dalam hatiku dan seketika air mataku mengalir melihat kejadian naas itu,
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman hidup
Ficción GeneralKisah si kembar beda gender dan wanita buta, Lgbt story Cover by @indie_neeh
