Enzi Pov
Ah Tuhan semakin gila aku membayang kan mas Dewa, aku sangat ingin merasakan berdua dengannya saja,
Setelah aku telponan diomeli mas Dewa karena transfer sewa apart itu, uangku di transfer balik dan dia ngegemesin banget mengancamku untuk gak boleh bayar, aku senang malah bukan takut berarti dia baik banget sama aku, aku tahu ancamannya hanya ucapan saja,
Dan yang masih mengganjal padaku adalah tentang hal sertifikat nikah kami berdua, dan mas Dewa belum tau tentang hal itu, entah kenapa perasaan ku harus di keep dulu tentang hal ini, aku gak tau kenapa hatiku mengatakan seperti itu,
Mengenai fantasi seks ku selalu terbayang dengan mas Dewa, dan entah kenapa semenjak aku masih menjadi istrinya kalau aku merasa horny sering ku lampiaskan masturbasi sendiri dengan membayangkan milik wajah mas Dewa,
Tapi hari ini akan menjadi hari yang indah kurasa, entah kenapa feelingku seperti itu yah,
Mungkin karena akan bertemu mas Dewa kali, hihi... Kenapa aku kepedean akan bertemu dengannya secara leluasa,
Karena staf lain yang dicafe merencanakan sesuatu untuk mas Dewa katanya, mereka belum di kunjungi mas Dewa selama punya bayi, mereka juga belum merayakan ulang tahunnya mas Dewa jadi inisiatif mereka hari ini akan bikin surprise,
Aku sih mengikuti saja tapi ikut andil juga sebenarnya, siapa juga yang gak mau ikut campur jika itu buat mas Dewa suamiku, hehe...
Sepertinya aku harus dandan cantik untuk hari ini, aku memang sengaja menyempatkan satu hari ini free tidak bekerja atau apapun karena aku khususkan untuk harinya mas Dewa,
Meja rias ku lebih ramai dari biasanya, bedak tabur, blush on, palet eyeshadow, eyeliner, sampai jepitan rambut, berjejer rapi seolah tahu akan digunakan,
Aku merapikan eyeliner di ujung mata, membiarkan bibir sexyku mengulas senyum kecil. Dulu mas Dewa sangat menyukai bibirku ketika memakai lip tint ah aku malah membayangkan wajah terkejutnya nanti.
Semoga masih ada titik menarik dimata dia yah, meski ku tahu pasti sudah digantikan oleh Aletta, bukan karena aku ingin mengusik, aku hanya ingin sedikit menarik perhatian dari dirinya,
Ketika ku berkaca notifikasi ponsel menjeda aliran pikiranku ini dari nama pengirim Pak Ardian,
"Aaah dosen itu lagi," gumamku
Dia seorang rekan dosen di kampus yang sudah lama membuatku agak kurang nyaman dengan perhatian berlebihan. Pria itu sering mencari alasan untuk menghubungi-kadang soal pekerjaan, kadang alasan yang bahkan tidak relevan sama sekali dan dia sekarang mengirim chat lagi,
"Bu Enzi, hari ini nggak ngajar ya? Kalau sempat, saya mau ngobrol soal program baru kampus..."
Aku menarik napas pendek, membalas dengan nada sopan tapi tegas
"Selamat pagi Pak, saya sedang cuti. Untuk program silakan email saja. Terima kasih."
Kemudian ku letakkan ponselnya sedikit jauh dari jangkauan. Hari ini bukan hari untuk menguras energi pada hal-hal seperti itu.
Hari ini hari khusus buat mas Dewa,
Ketika ku masih berkaca melihat penampilanku terdengar suara langkah kecil di belakang.
Giza muncul di ambang pintu, rambutnya acak-acakan, boneka panda masih menempel di tangan.
"Manda... mau pelgi? Kok dandan kayak mau ketemu pangelan?" tanya Giza sambil memanyunkan bibirnya, lalu naik ke kursi kecil di samping meja riasku,
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman hidup
Ficção GeralKisah si kembar beda gender dan wanita buta, Lgbt story Cover by @indie_neeh
