Agatha adalah seorang gadis 21 tahun yang baru saja menyelesaikan studinya di sebuah Universitas ternama sebagai lulusan terbaik.
Namun, menjadi lulusan terbaik dengan IPK sempurna nyatanya tak dapat membuat hidupnya yang adalah seorang yatim piatu...
Btw sedikit spoiler, di chapter ini kalian bakal ketemu karakter yang udah lama gak muncul tapi pasti bakal naikin emosi kalian🥲
Ada scene figuran yang lumayan banyak tapi aku bener-bener saranin kalian simak baik-baik ya.. Apalagi bagian beritanya heheheh..
Absen dulu gaksiii? Minta emot bintangnya donggg biar semangattt😻😻😻
Happy reading yaaa💓💓💓
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hmm.. kau benar. Ini bahkan lebih enak dari kentang pedas manis dan telur orak-arik yang pernah kau buatkan untukku."
Tidak pernah. Agatha tidak pernah membuat makanan itu untuk Quentin di dunia ini. Ataupun untuk dirinya sendiri.
Namun, ia pernah memberikan makanan yang sama pada seseorang yang begitu mirip dengan Quentin Lawrence. Di dunia aslinya.
Waktu itu, Agatha baru saja selesai menutup kotak makan siangnya yang berisi nasi, telur ceplok gagal--karena Agatha buru-buru memecahkan telur sebelum menuang minyak sehingga terciptalah telur orak-arik--dan kentang dadu goreng yang diberi bumbu pedas manis. Alarmnya telah berbunyi sejak lima menit lalu, yang artinya ia harusnya sudah berangkat menuju kampus dari tadi, untuk melakukan bimbingan skripsi.
Mengepak semua barang yang ia perlukan, cepat-cepat Agatha berlari keluar kamar kosnya agar ia bisa menebus lima menit yang terlewat tadi dan tiba di kampus tepat waktu. Namun, karena buru-buru, Agatha tak sengaja menyenggol kunci besi dari gerbang kos yang menonjol, dan ujung besi yang kasar itu sukses mencipta luka lecet yang cukup menyakitkan di lengannya.
Ingin mengobati, tetapi Agatha akan sangat terlambat. Karena itu ia memilih untuk terus menghela langkah menuju kampus yang bisa ditempuh dengan 15 menit berjalan kaki.
Untungnya, Agatha tiba dua menit sebelum janji, sehingga ia masih memiliki waktu untuk membersihkan lukanya di kamar mandi. Sayang sekali, Agatha kehabisan plester luka. Jadi ia hanya bisa mengobati lukanya dengan salep secukupnya, dan dibiarkan terbuka begitu saja, sebelum buru-buru keluar dari sana karena waktu dua menitnya sudah habis.
*
Kegiatan bimbingan dengan Pak Arion kali ini cukup banyak menyita waktu. Agatha melakukan beberapa kesalahan rumus pada analisis regresi untuk data yang diolahnya sehingga nilai mean dan standar deviasi yang dihasilkan, tidak sesuai jika dibandingkan dengan kondisi aktual perusahaan yang menjadi variabel penelitiannya.
Ada banyak revisi hari itu. Agatha terus menerima masukan dan arahan pengolahan data yang tepat, sampai akhirnya suara perut salah satu dari mereka terdengar dan menghentikan semuanya. Tidak nyaring, tetapi cukup jelas.