#46 hilang

21 2 0
                                        

Tujuh hari berlalu bersamaan dengan ketidakhadiran Saguna di sekolah. Karena kakinya yang masih susah untuk berjalan, sehingga Ashe tidak memperbolehkan Saguna keluar rumah sama sekali.

Namun hari ini Saguna sudah memutuskan untuk kembali bersekolah. Sebelum memulai harinya, Saguna memilih menu sarapan nasi goreng dengan telur mata sapi setengah matang. Selain itu di atas piringnya juga ada dua sosis dan suwiran daging ayam. Jangan sampai lupa final step, taburan bawang goreng yang harum.

Karena tidak diperbolehkan membawa motor. Saguna harus diantar Jordan, walau sudah menolak dan menyanggupi untuk pergi sendiri tetapi keras kepala Ashe yang khawatir bisa lebih keras dari pada sebuah batu.

"Total biaya antar jadi seratus ribu rupiah." kata Jordan memberhentikan mobilnya di depan gerbang sekolah.

"Sampe sini doang? Masuk lah, biar gue jalannya nggak jauh." kata Saguna belum mau keluar.

"Justru karena kaki lo baru aja sembuh makanya harus sering dipake jalan. Sekarang gue kasih waktu dan tempat, dipersilahkan." ujar Jordan sangat amat menjengkelkan, mengangkat sebelah tangannya mengusir Saguna keluar dari mobilnya yang siap melaju pulang.

"Kasih bantuan tapi setengah." balas Saguna mengambil tasnya di kursi belakang.

"Harusnya gue masih tidur nyenyak di kasur. Berhubung gue Abang yang baik dan perhatian sama Adik, yang hatinya udah beku. Makanya gue rela bangun pagi cuma buat antar lo ke sekolah!" kata Jordan namun Saguna tidak peduli dan keluar begitu saja. "Sama-sama, Adikku sayang!" sarkas Jordan berteriak membuka kaca mobil karena Saguna melenggang pergi begitu saja.

***

"Anjir, bisa nggak sih lain kali kalau guru manggil gue ke depan tuh kalian bantu jawab juga?! Udah gitu soalnya susah banget, gue sempat lirik ke belakang tapi nggak ada yang peka!" marah Kenzo sambil keluar kelas disusul ketiga sahabatnya yang lain.

"Gue peka sih, tau kalau lo lagi nyari bantuan. Cuma emang nggak mau bantuin aja." kata Samuel menggidikkan bahunya.

"Nggak mau bantuin atau nggak bisa?" balas Farzan membuat ekspresi Samuel berubah.

"Soal matematika doang mah gampang, Zan. Sama aja kaya ngitung duit. Gue yang paling jago di antara lo semua." balas Samuel tidak mau kalah.

"Atur sebrengsek mungkin. Lo kan panitianya." ujar Farzan menepuk bahu Samuel.

"Gue aja suka bingung. Kenapa kalau disuruh maju ke depan kelas buat jawab pertanyaan, selalu gue yang kena?!" kata Kenzo masih marah. Kalau di setiap sesi Kenzo selalu salah menjawab pertanyaan dan soal dari para guru, turun sampai mentok ke dasar laut sudah harga dirinya.

"Makanya belajar." kata Aksa.

"Biasanya guru milih murid yang mukanya tuh rada plenger, keliatan kalau lo nggak paham sama materi yang diajarin. Makanya mau bisa atau nggak. Mau kepala lo udah ngebul karena nggak ngerti sama sekali, tetap pasang muka penuh percaya diri!" nasihat melenceng dari Farzan yang memberitahu Kenzo.

"Tatap aja matanya, Zo. Sambil anggukin kepala beberapa kali biar dia makin percaya." tambah Samuel.

Dan bukannya marah, Kenzo malah terlihat menerima masukkan dengan senang hati.

"Bentar, biar gue catat di note." kata Kenzo mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan meminta keduanya untuk mengulang tips and trik untuk menghindari dari kejadian barusan.

Obatnya orang yang mempunyai penyakit lupa.

"Lo kalau masih mau lanjut ngobrol sampe jam istirahat selesai, mending gue ke kantin duluan." kata Aksa menunggu ketiganya selesai.

Saguna Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang