Layar ponsel berwarna hitam tanpa balutan pelindung menunjukkan pukul 09:18 pagi. Saguna masih belum mau beranjak dari tempat nyamannya yaitu sofa di rooftop sekolah.
Walau dipaksa masuk memerhatikan guru di depan kelas. Sepertinya tidak akan ada materi yang masuk ke dalam otaknya. Fokusnya tetap pada kejadian sebelum kecelakaan, Misha mengatakan kalau Mita sudah tiada.
Apa itu benar?
Posisi Saguna berubah menjadi duduk ketika sudah lama berbaring di atas sofa.
"Gue butuh penjelasan lebih, dia nggak bisa ngomong seenaknya tanpa jelasin apa yang sebenarnya terjadi." ujar Saguna berdiri. Kemudian berjalan membuka sebuah pintu besi sedikit berkarat, menuruni anak tangga dan meninggalkan tas sekolahnya begitu saja.
***
Terlihat bangunan yang pagar besinya sudah dimakan lumut hijau. Suasana mencengkam namun tidak menghentikan langkah cowok berkemeja putih datang tanpa sebuah pasukan di belakangnya.
Bendera di atas bangunan berkibar tertiup angin. Tertulis nama Canopus, jagoannya SMA Angkasa. Sekolah yang berdiri bersebelahan dengan SMA Taruna Bangsa. Hanya jalanan besar yang membentang kedua wilayah mematikan agar penghuninya tidak saling membunuh.
Kedatangan Saguna menyadarkan tiga murid di halaman bangunan. Murid, mereka juga tengah menggunakan seragam sekolah.
"Eh, markas kita kedatangan tamu?" seseorang membuka suara. Sedikit terkejut namun menyukai keadaan saat ini, senyuman miring tercetak jelas di wajahnya.
"Mau apa lo ke sini?!"
"Hey, tenang dulu. Ini tamu VIP, tamu spesialnya Canopus." kata Gavin menyuruh salah satu anggota mundur ke belakang.
"Gue datang ke sini bukan untuk cari ribut." ujar Saguna berjalan mendekat.
"Iya, tapi datang cari mati kan?" sambar Agam mengundang gelak tawa.
"Gue saranin catat tanggal dan waktu, jadi keluarga lo bisa tau kapan putra kesayangannya mati di markas Canopus." kata Gavin mengepalkan tangannya. Bunyi pecahan gelembung gas di dalam cairan sendi terdengar, kepalannya kuat hingga buku tangan meremang.
Seperti setiap detikan, Saguna berdiri di sini. Telah membakar habis sesuatu yang membuat dendam juga emosi Gavin memuncak hingga ke atas kepala.
"Sekali lagi gue bilang. Gue nggak ada urusan sama kalian semua, gue cuma mau ketemu Misha." ucap Saguna masih terpantau tenang.
"Banyak bacot lo, bangsat!" bentak Gavin maju melayangkan bogeman mentah. Tidak semudah yang dibayangkan, karena Saguna lebih dulu menepisnya kasar.
"Gue nggak mau buang waktu. Di mana Misha?!" kata Saguna mulai terbawa emosi.
Tidak menjawab, Agam malah mengambil tongkat yang menganggur di dekatnya. Mencoba memukul Saguna yang sudah membaca pergerakan cowok tersebut sebelumnya.
Kaki jenjang Saguna menendang tongkat di tangan Agam hingga tubuhnya memutar, kemudian meninju rahang kanan Gavin membuatnya tersungkur kesakitan. Saguna berjongkok seraya menyeret sebelah kaki layaknya sebuah alat pembersih yang menyapu kedua kaki anggota Canopus, lalu terjatuh menubruk tanah yang diatasnya banyak dedaunan kering.
Bruk!
"Anjing!" Agam melayangkan banyak pukulan. Saguna hanya mengangkat kedua tangan melindungi wajahnya.
Jangan. Memar pada wajah sangat mudah dilihat. Saguna tidak mau Ashe menyadari kalau dirinya kembali berulah, jadi tolong pukul bagian yang lain saja.
Di sela pukulan Agam yang bertubi-tubi tanpa henti, tidak memberi Saguna waktu untuk menarik napas. Ada celah kecil yang bisa Saguna ambil untuk menarik lengan Agam dan memelintirkannya ke belakang tubuh cowok tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saguna
Romance[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Spin off cerita "Aksara" dapat dibaca terpisah <3 "Bisa diam gak?" "Jangan ganggu gue!" "Gue bukan pacar lo, Frey." Top 3 kalimat Saguna Zayyan, cowok super dingin mengalahkan tumpukan salju di Kutub Utara. "DASAR...
