#50 absurd

21 2 0
                                        

Karena berbincang dengan Freya. Saguna menjadi bagian urutan paling akhir yang masuk kembali ke dalam kelas. Sedangkan para sahabatnya yang lain sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.

Sesampainya di sana, alis Saguna menaut mendapati tatapan aneh keempatnya. Mereka seperti sudah menunggu kehadiran Saguna sehingga tepat sedetik setelahnya, Kenzo langsung berdiri dan menarik Saguna untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.

"Kalian ngapain sih?!" marah Saguna.

"Shtttt." jari telunjuk Farzan ditaruh di depan mulut Saguna.

"Kita di sini mau mengintrogasi lo, wahai wakil Liberios. Lo gak bisa menghindar atau yang paling parah, sampe nggak mau jawab semua pertanyaan yang sekarang ada di kepala gue." ujar Samuel, satu tangannya menyentuh pundak Saguna.

"Tolong kerja samanya, Na." Kenzo duduk berhadapan.

"Gue nggak ngerti maksud lo semua." Saguna hendak berdiri menuju kursinya.

"Duduk dulu, Na." kata Farzan mengikat tubuh Saguna pada sandaran kursi. Menggunakan dasi mereka yang sudah diikat sambung menyambung menjadi satu.

"Kalau mau tanya, tinggal tanya aja. Nggak usah kaya gini, sumpah kaya orang gak waras!" jawab Saguna minta dilepas.

"Jaga-jaga kalau lo mau kabur."

"Buruan mau tanya apa." pasrah Saguna.

"Sumpah gue kaget setengah mampus. Karena lo tau apa? Ketika tanganku hendak menyuapkan sepotong batagor berbumbu saus kacang ke dalam mulut, daku melihat pemandangan langka yang sepertinya terjadi karena dunia mau berakhir!" kata Kenzo berlebihan.

"Lo, seorang Saguna. Duduk bareng FREYA di kantin, berduaan." ucap Farzan kemudian menutup mulutnya berlagak kalau ucapannya barusan adalah sesuatu yang tidak bisa dipercaya.

"Kalian ngobrol berdua kaya asik banget, sampe lupa kalau kita masih ada di kantin juga?" tambah Samuel.

Saguna memutar bola matanya malas. Sudah tahu kalau reaksi mereka pasti akan sangat amat di luar nalar dan berlebihan tingkat dewa.

Karena Saguna juga tidak ada niatan untuk menutupi. Jadi Saguna tidak terlalu peduli kala mereka melihat kedekatannya dengan Freya yang baru saja terjalin, tetapi tetap saja kejadian ini sebenarnya sudah terpikirkan oleh Saguna.

"Freya sampe ngelap keringat lo. Dan lo? Diam aja kaya menerima dengan ikhlas!"

"What da heck, man!" kata Kenzo berlagak orang Inggris.

"Jelasin ke kita sekarang juga, Na. Jelasin serinci dan sejelas mungkin, kalau perlu ceritain setiap obrolan lo sama Freya." pinta Farzan.

"Setiap kata yang keluar!"

"Apanya yang mau dijelasin? Kalian kan liat sendiri, tandanya Saguna sama Freya udah jadian." cetus Aksa santai.

"WHAT?!"

"Yang benar, Na?!" tanya Samuel.

Berdecak keras, Saguna menatap Aksa dengan tatapan memicing. "Belum."

"BELUM?! TANDANYA BAKAL JADIAN DONG?!"

"Astaga, jangan teriakan terus. Udah mending lo semua lepasin ikatannya sebelum guru dateng." kata Saguna mencoba keluar, tetapi ikatannya di belakang malah tambah kuat.

Lagipula dasi siapa saja ini? Kenapa sangat panjang, Saguna mengedar pandang dan melihat teman sekelasnya malah menonton kejadian memalukan.

Parahnya, dasi tidak melingkar di leher mereka menandakan bahwa ikatannya ini sudah dipersiapkan oleh keempat sahabat laknatnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 21 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Saguna Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang