#49 kantin sekolah

24 3 0
                                        

Selamat membaca, terima kasih yang udah mau nunggu aku up x

***

Kantin sudah tidak seramai beberapa menit yang lalu, hanya tersisa sedikit murid yang belum menyelesaikan makanan yang dipesan.

"Mau bakso satu porsi ya, Pak." kata Saguna memesan, di samping cowok itu berdiri Freya yang menyilangkan kedua tangannya di depan dada karena masih sedikit kesal.

Bayangkan, baru keluar dari rumah sakit setelah sempat terbanting kasar di atas aspal layaknya sebuah adonan. Sekarang Saguna datang dengan wajah lebam, berlagak tidak terjadi sesuatu sebelum masuk ke kantin sekolah.

"Bakso apa, Na? Bakso telur?" tanya penjual yang hafal pesanan Saguna.

"Iya, Pak." jawab Saguna. "Udah makan belum, mau pesan juga?" tanya Saguna menoleh ke arah Freya.

"Tadi udah makan bakso." kata Freya.

"Mau pesan lagi nggak?"

Mulut Freya membulat sempurna. "Lo mau buat gue nambah berat badan, ya?!"

"Enggak. Tapi kalau lo mau makan lagi, nggak ada salahnya juga kan?" jawab Saguna menerima uluran nampan berisi semangkuk bakso dan es teh manis yang menggiurkan. Sungguh membuat perut siapa saja keroncongan juga tenggorokan mendadak kering karena segelas minuman dingin.

"Nggak mau nambah." kata Freya menolak. "Baksonya nggak mau coba pake sambal sedikit?" tanya Freya melihat makanan Saguna yang sangat pucat menurutnya.

"Saguna memang nggak pernah pakai sambal dan saos kalau makan bakso, Neng cantik." kata Bapak penjual.

"Oh iya, lupa..." kata Freya, nadanya terdengar sedikit aneh untuk Saguna.

Freya mengetahui kalau Saguna memang tidak suka dan tidak kuat terhadap rasa pedas. Tetapi untuk Freya yang bisa memakan langsung cabai, masuk ke dalam mulutnya. Melihat bakso pesanan Saguna sama sekali tidak mengunggah selera makan.

"Pake sambal dan saosnya, Pak." pinta Saguna secara tiba-tiba, seraya menodorkan nampan di tangannya.

"Hah? Serius, Na? Karena sambal buatan Bapak pedas nampol, menggelegar, bahkan bisa membakar jiwa dan raga." penjualnya saja sampai terkejut.

Saguna mengangguk mantap. Merasa kalau wajah dan gaya bicara Freya barusan sedikit menantangnya. Pasti gadis itu sedang berpikir, bagaimana seorang yang berani bertengkar hingga babak belur tetapi tidak bisa makan makanan pedas?

"Mending jangan deh, Saguna. Kalau nggak kuat pedas dan dipaksa makan nanti bisa sakit perut." kata Freya memberhentikan tangan penjual yang sudah ingin menuangkan sesendok sambal ke dalam mangkuk.

"Tuang aja sambalnya, Pak." kata Saguna tidak memedulikan perkataan Freya. Sang penjual bakso melanjutkan pergerakannya, karena sudah mendapat persetujuan dari Saguna.

"Jangan..." namun kembali berhenti karena ucapan Freya.

"Yang mau makan itu gue, jadi terserah mau pake sambal atau enggak." kata Saguna mengarah pada Freya, memintanya untuk jangan ikut campur. "Kalau mau pesan yang gak pedas, makan aja sendiri. Dietnya mulai besok." sambung Saguna.

"Dih, siapa yang bilang kalau gue lagi diet? Body gue udah MANTAP. Kalau enggak, gimana bisa lo jatuh cinta sama gue sekarang?!" kata Freya tidak menyaring kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Bapak tukang bakso hanya terdiam menunggu keduanya selesai berbicara sembari memegangi sendok kecil berisi sambal pedas.

"Percaya diri emang bagus. Tapi kalau berlebihan juga nggak baik. Sekedar informasi singkat buat lo." kata Saguna menggerakan tangan penjual hingga sambalnya jatuh di atas bakso bulat berisi telur rebus. "Terima kasih, Pak."

Saguna Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang