Bunyi pistol memekakan telinga. Semua mematung di tempat, terutama Kenzo yang tatapannya kosong ke depan.
"Mungkin Dareen udah mati. Tapi senjata dia masih tetap tinggal bersama Canopus!"
Suara barusan, nama yang Gavin sebut, hingga suasana yang Kenzo rasakan sekarang. Deja vu. Membuka sebuah luka. Goresannya kembali terbuka lebar sampai daging merah menganga mengelupas. Kejadian yang Kenzo coba lupakan, kini mulai bermain di kepalanya.
"Ready for part 2?" tanya Gavin mengarahkan pistolnya ke arah anggota Liberios.
"Ayok, pergi dari sini, Zo." ajak Farzan menarik lengan Kenzo. Kenapa? Kenapa tubuh Kenzo tidak bisa digerakan.
"Ayok, pergi!" bentak Farzan mencoba menyadarkan Kenzo.
Gavin kembali menarik pelatuknya. Peluru melambung diudara bergerak lurus dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat menggunakan mata telanjang. Tepat mengenai pohon tua besar di halaman, untung saja Farzan cepat menarik Kenzo menghindar sebelum terlambat.
Tatapan Farzan dan Samuel sempat bertemu. Samuel mengisyaratkan Farzan untuk membawa pergi Kenzo keluar dari markas Canopus, Farzan mengangguk mantap mengiyakan.
"Kejar!" bentak Gavin kepada para anggota.
Di saat mereka belum sepenuhnya menyadari. Samuel melangkah pelan masuk ke dalam gedung menyusul Saguna dan Aksa. Ketika langkah Gavin sudah hendak mengejar kedua manusia sialan tersebut, Agam menahannya.
"Di dalam ada yang lebih berharga." kata Agam bermaksud, ketua dan wakil Liberios.
Seringai di wajah Gavin melebar. YaTuhan, sudah lama Gavin mendambakan kesempatan ini. Cowok itu membiarkan anggotanya tetap pergi namun dirinya dan Agam berjalan berlawanan arah yaitu memasuki gedung markas.
***
Saguna menuruni anak tangga sampai berpapasan dengan dua orang. Sialnya bukan Aksa dan Saguna, melainkan Gavin juga Agam yang menatap dirinya seperti seekor singa terhadap mangsanya.
"Any last word?" tanya Gavin kembali menggunakan peluru di pistolnya. Saguna segera menunduk menghindar, kemudian menjauh mencoba bersembunyi dari Gavin yang sudah hilang akal sehatnya.
"Lo gila?!" bentak Misha.
"Kenapa? Dia wakil Liberios, kita harus habisin dia kalau perlu semua anggota Liberios yang ada!" kata Gavin layaknya orang kesurupan.
"Bodoh! Kalau sampe dia mati di markas dan kelakuan lo terbongkar, kita semua bisa masuk penjara!" kata Misha mencoba mengambil pistol dari tangan Gavin namun Agam langsung menepisnya kasar.
"Lo ketua Canopus, bukan? Kenapa lembek banget? Dareen sama sekali nggak takut sama polisi begitu juga kita, Canopus!" kata Agam.
"Sialan..." Misha menarik kerah baju Agam kuat. "Gue bukan mantan ketua lo yang udah mati dan mungkin sekarang terpanggang hangus di neraka. Gue bukan Dareen, jadi stop sebut namanya!" katanya menajam.
Gavin memberi pukulan hangat menggunakan pegangan pistol yang ia pegang. "Ngomong apa lo barusan?"
"Anjing-"
Baru Misha ingin membalas, Gavin menodongkan pistolnya mengarah pada Misha yang mendadak membeku di tempat. Gavin macam sedang dirasuki setan membuat matanya memerah serta pikirannya berubah tidak jernih, di saat seperti ini Gavin bisa melakukan apa saja bahkan hal-hal gila sekalipun.
"Cari Saguna dan Aksa, sekarang juga." ucapnya memelan namun tetap menusuk.
Misha mundur perlahan, rahangnya mengeras tetapi cowok itu tetap melakukan perintah Gavin. Sekarang, wakil yang memerintah ketua Canopus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saguna
Romance[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Spin off cerita "Aksara" dapat dibaca terpisah <3 "Bisa diam gak?" "Jangan ganggu gue!" "Gue bukan pacar lo, Frey." Top 3 kalimat Saguna Zayyan, cowok super dingin mengalahkan tumpukan salju di Kutub Utara. "DASAR...
