[BEBERAPA CHAPTER DIPRIVAT, FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
Dipo Panji Tirtayasa adalah seorang anak geng sekolahan yang populer. Ia manis, suaranya bagus, pandai bermain gitar, jago bela diri, wangi, juga pecinta warna hitam. Cowok jangkung yang kerap kali...
Guys, jadi di side story ini bakal ceritain couple dip-el dari awal saling kenal, jadi teman pergi pulang sekolah, terus makin deket. Jadi, ada fase di mana diceritain waktu Dipo suka sama Cani, berantem sama Billy 🤣, terus yang gebetannya si Berli dulu.
Jadi, kalian siap-siap kesel. 😭
Btw, anyway, busway, semisal nih ya aku targetin 5k komen dan 5k komen itu capai targetnya di hari rabu (aku gak bisa tiba-tiba update di hari itu ya guys, jadi bakal tetep up nya kayak biasanya malam minggu).
Kenapa harus malming, Nis? Dari dulu aku emang suka up malam minggu (nyaman aja kesannya) + aku nunggu kalian capai target, kalian nunggu dikit aku nulis. ^^
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
400 vote + 5k komen (kayak kemaren) maaf ya kalau ada typonya
• • •
04. SIDE STORY
MENURUT Elona, melihat wajah Cakra yang miring di pagi hari adalah kesialan dunia. Lebih tepatnya, dunianya saja.
Hari ini Cakra tidak ke sekolah yang mana hanya ia yang berangkat ke sekolah pagi ini. Cakra tidak sedang sakit melainkan akan mengikuti pertandingan bela diri. Kalau Elona anak kempo maka Cakra adalah anak taekwondo pemegang sabuk hitam.
Bola mata Elona berputar melihat Cakra yang berada di seberangnya. Tepatnya di hadapannya yang hanya terpisah jarak oleh meja makan. Cowok itu berdiri dengan gagahnya menggunakan baju khas bela diri taekwondo dengan sepotong roti yang tergantung di mulutnya.
"Kamu gak mau nonton saya?"
"Ogah."
"Kok gitu?"
"Saya juga ada ulangan," jawab Elona yang menggunakan kata 'saya' juga pada Cakra. Seolah mengejek sepupunya yang terpaut beberapa bulan darinya itu.
"Merugilah kau."
"Mirigilih kii," jawab Elona masih dengan nada mengejek.
Tanpa Elona, Cakra akan tetap bertanding.
Tenang saja, Cakra punya support system yang solid. Ada Bunda Aruna dan Ayah Tama yang akan selalu menjadi pendukung nomor satu untuk anak bungsu mereka itu. Arka Satya Wardana—Kakak tertua Cakra—pun akan meluangkan waktunya untuk melihat penampilan adik kecilnya itu.
Dulu Elona akan sedih dan bertanya-tanya mengapa orang mengapa orang tuanya tidak bisa seperti Bunda Aruna dan Ayah Tama. Namun sekarang, dibandingkan sedih, Elona lebih memilih memendam semuanya.