Seragam ini lucu juga. Aku berputar-putar di depan kaca.
Kemeja bertangan pendek dengan pattern outline kotak-kotak kecil berwarna hitam-putih, dengan apron berwarna coklat tua sepinggang. Diberi velcro di bagian belakangnya, dan tali di bagian depan untuk diikat menjadi pita. Aku memadukan celana skinny jeans hitam di dalam celemek itu.
Baru kali ini kulihat seragam seniat ini, dan entah kenapa moodku membaik.
Kuikat pony tail rambut panjang dan tebalku seperti biasa. Karena akhir-akhir ini agak jarang kuurai. Walaupun sebenarnya rambutku cukup sehat dan indah. Aku melihat jam, ternyata sudah pukul lima sore. Kutekan mulut semprot body spray itu beberapa kali. Memang sejak pulang kuliah, aku belum sempat mandi.
Ok, semua sudah beres.
Aku menarik gendongan tas ransel, dan memakai jaket parka biru navy itu, dan beranjak pergi.
***
Aku turun dari angkutan umum yang berhenti di tepi jalan, dekat dengan belokan di mana cafe itu berada.
Sambil membayar, buru-buru kutudungkan kepalaku dengan topi jaket, lalu berlari. Tak disangka, hujan turun begitu lebat, dan sialnya aku malah tidak bawa payung.
Baju seragamku nyaris basah kuyup ketika tiba di cafe itu. Rasanya kesal sekali.
Tau begini aku pakai baju biasa dulu, baru ganti baju di sini.
Aku terlalu exited dengan seragam ini sampai tidak berpikir panjang, gerutuku sambil melepas jaket yang sudah berat karena basah.
Sambil berdiri di pinggiran cafe, aku memeras jaketku. Membetulkan rambut yang sudah tak karuan bentuknya. Bukan hari pertama yang baik. Aku menghela sedih.
Seketika aku merasa ada sesuatu yang hangat membungkus tubuhku dari belakang. Aku sempat tertegun, dan begitu menyadari.
Eh, handuk?
Seketika itu juga aku berpaling ke belakang, ketika kulihat sesosok tinggi dengan baju seragam yang hampir sama, hanya bentuk apron-nya saja yang berbeda, miliknya lebih seperti overall. Belum sempat kulihat wajahnya, buru-buru ia menarik tanganku.
"Ikut aku." Perintah suara itu dan aku yang masih linglung mengikutinya. Tangannya begitu besar dan hangat menggenggam tanganku lembut.
Aku masuk ke sebuah ruangan di belakang cafe, tidak terlalu besar, tapi terdapat kamar mandi, beberapa loker, dan satu buah meja kotak dengan empat buah kursi di sekelilingnya. Aku masih berdiri. Pandanganku menyapu ruangan itu.
"Silahkan keringkan dulu badanmu, dan setelah itu, kau boleh masuk ke dalam." kata sosok itu lalu beranjak pergi meninggalkanku, tanpa menunggu jawaban.
Aku bahkan tak sempat mengucapkan terima kasih atas handuk ini, dan dia sudah kembali berlalu. Wajahnya pun tak sempat terlihat, karena orang itu menggunakan topi. Wajahnya tampak gelap tertutup bayangan topinya.
Hampir sepuluh menit aku berbenah, dan seketika terdengar ketukan pintu. Belum sempat kujawab, pintu sudah kembali di buka. Seorang wanita dengan rambut sebahu, berwarna coklat cerah dan agak bergelombang, berwajah manis dan berkulit putih. Ia menatapku, lalu kemudian tersenyum.
"Hai, Annora." Sapanya ramah sambil melambaikan tangan. Aku tersenyum salah tingkah. Ia berjalan mendekat, dan matanya tampak terbelalak.
"Wow bajumu basah say, kayaknya kau harus ganti baju deh." Tangannya menyentuh apron-ku yang basah.
"Aku sudah berusaha mengeringkannya, tapi rasanya untuk sampai benar-benar kering, akan makan waktu lama." Ujarku lirih. Sebenarnya sedih juga. Hari pertama ini benar-benar tidak sesuai harapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
RomanceHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
