Bustle

1K 74 1
                                        

"Bagaimana kerjaanmu dengan mantan Bos-ku?" Calvin memberi jempolnya mantap, "oh, kamu keren sekali ..." Vivian menghampiri kekasihnya lalu duduk di pangkuan dan memeluk manja.

"He's my favorite clien, you know, hard like stone but you'll find diamond in the end." Ia kecup pipi kekasihnya itu singkat.

"Kabar apa lagi yang kau dapat sejauh ini? Annora sama sekali belum menghubungiku." Vivian mendengus lalu bangkit berdiri. "Apa sesibuk itu sampai lupa padaku?" ia melipat tangannya dengan wajah memberenggut.

"Same like you. No call no message, nothing." Calvin hanya mengedik dan menghela.

"Aku punya ide bagus. Hari ini apa yang akan kau lakukan?" Vivian melirik Calvin yang hanya terkekeh, lalu menggeleng.

"Tak ada, mungkin mengecek cafe, dan ... belum ada kerjaan lagi."

"Good, now put your shirt on and we'll go within five minutes." Pria bule itu menaut alisnya bingung.

"Mau ke mana?" Vivian hanya tersenyum singkat dan sangat mencurigakan.

"Watch me." Calvin hanya menghela dan terkekeh. Vivian dan keisengannya bukan lagi menjadi hal aneh baginya.

***

Reyno nampak serius mencatat satu persatu hasil diskusi kita. Setelah menetapkan konsep, dekorasi dan makanan, aku menyerahkan sisanya kepada pria itu. Masalah jumlah undangan dan merchandise kudengar mantan sekertaris Anya yang akan mengambil alih. Tentu siapa saja yang akan hadir di acara itu akan didominasi oleh keluarga bahkan mantan rekan bisnisnya. Reyno bukan orang sembarangan, bukan seperti aku yang hanya sejumput teman baik dan keluarga.

"Istirahatlah jika lelah, mungkin aku masih akan mencatat beberapa hal penting sebelum ku-email ke Anya." Aku hanya terdiam menatapnya begitu fokus melihat layar laptop.

"Bukankah Anya kini sudah menjadi sekertaris Zach? apa kau masih bisa memberinya perintah?" Reyno pun tersenyum menanggapi pertanyaanku yang agak ketus.

"Aku masih bekerja di sana, bukan? Zach sudah memiliki asisten pribadinya sendiri, dan ya, Anya tetap menjadi bawahanku," jawabnya tenang lalu menatapku sekilas dan kembali ke laptopnya.

Oh, benarkah? Anya itu apa memang begitu spesial sampai tetap ia dipertahankan? hum ... kenapa aku jadi sedikit kesal. Tapi ... memang wanita itu kelihatannya pintar dan berkelas, dan tentu saja, bagaimana pun ia telah mengenal Reyno lebih dulu dari pada aku.

"Hah! menyebalkan," ujarku lalu membenamkan wajah ke bantal sofa. Reyno yang diam-diam melirik kemudian tersenyum kecil tanpa membalas apa-apa.

"Apa kau lapar?" tanyanya mencoba mengalihkan topik, lalu melihat jam tangannya sepintas. "Oh, sudah pukul sembilan malam." Ia pun tertawa lalu bangkit dan berjalan ke arahku.

"Yah, aku lapar," jawabku langsung memandangnya sinis. "Boleh aku makan orang?" Reyno semakin tertawa.

"Tidak, tak ada orang yang bisa kau makan selain aku." Tangannya langsung menyentil keningku dan aku mengerenyit.

"Boleh aku bertanya sesuatu?" Reyno menggeleng cepat.

"Kau jawab pertanyaanku dulu." Aku kembali mendengus.

"Makan apa saja boleh. Kau punya
ramen? kurasa itu sudah cukup." Aku pun bangkit untuk berjalan ke arah dapur.

Entah kenapa rasa kesalku masih bertengger.

JUST ONE BELIEVE (complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang