In Your Arms

3.3K 161 1
                                        

Langit begitu cerah malam ini, hamburan berjuta bintang menghiasi hamparan hitam yang luas tak terhingga, bagai taman dengan kerlip kunang-kunang yang melayang rendah di sekitarnya. Berbagai rasi bintang dapat ditemukan hanya dalam waktu singkat.

Hembusan angin terasa sejuk dan tenang, senada dengan riak air di hadapanku yang mengikuti alurnya dengan sabar. Memberi ketenangan, di balik ramainya aktifitas di bawah sana. Gemerlap yang tak mau kalah dengan langit, suara samar-samar yang mengalun lembut bagai instrumental dari ketinggian ini. Semua tampak indah, semua menjadi hiperbolis. Aku mulai samar membedakan, antara nyata dan mimpi.

Mataku masih menatap terpaku dengan apa yang ada tepat di hadapanku, sekarang.

Sebuat meja persegi bertaplak hitam, di pinggiran kolam, tertata begitu indah. Dua buah kursinya yang diberi pita yang juga hitam, tampak selaras. Cahaya lembut dari lilin-lilin bertatak gelas-gelas-kecil-bulat-bening yang ditata melingkar, memancarkan pantulan redup yang romantis.

Sebotol wine putih berdiri tegak di tengah, dan dua buah goblet glass yang tampak anggun menemani sisi kiri
dan kanannya.

Sebuah hidangan eropa yang tampak ter-platting elegan, layaknya menu-menu western yang biasa terpampang di menu utama resto atau cafe esklusif, juga yang biasa menghiasi cover buku-buku kuliner import.
Entah apa itu, tapi ... terlihat sangat menarik, sangat menggiurkan.

Reyno masih berdiri di sana. Masih mengenakan kaos t-shirt hitam polos favoritnya, celana jeans navy-nya yang sudah tak dilipat, dan rambutnya yang kini sudah ditata rapih ke belakang.

Ia memandangku. Uluran tangannya mengisyaratkanku mendekat.

Aku masih terduduk kaku di pinggir kolam, enggan, bingung, terkejut dan masih mencoba beradaptasi dengan semua ini.

"Annora ..." Reyno kembali memanggil namaku lembut, selembut beludru. Suaranya seperti aliran kasat mata yang menyusuri tubuhku, membuatku bergetar sekaligus terbuai.

"Rey ..." Suaraku tercekat di tenggorokan, speachless, pikiranku blank tapi juga penuh. Kakiku seperti mati rasa, dan badanku mendadak terasa berat.

Reyno mengalah dan perlahan berjalan menghampiriku. Ia mengulurkan tangannya lagi, dan aku ragu-ragu menyambutnya. Ia menarikku mantap untuk bangkit dengan mudahnya, seolah tak berbeban, kekuatannya sedikit mengejutkanku.

Tanganku tak dilepasnya. Jari-jarinya bergerak merambat, menyilang menggenggam jari-jariku.
Hangat. Menenangkan.
Sudah cukup untuk membuat kakiku kembali lemas.

Apakah ini terlalu berlebihan?
Apakah aku terlalu tak tahu diri jika membiarkannya?

"Rey ..." Aku menahan tangannya yang akan menarikku berjalan.

Ia menoleh menatapku.
Aku menatapnya hati-hati. Kubuka lagi mulutku, tapi lidahku semakin kelu. Aku menghela nafas resah.
Reyno tersenyum kecil menyadari kegelisahanku. Genggamannya menguat.

"It's a date, Annora." Jelasnya singkat, seolah tahu apa isi pikiranku dari tadi, dan berusaha menjawab semuanya dalam beberapa kata yang singkat.

Kata yang harus kucerna.
Kata yang menyimbolkan sesuatu yang tak pernah lagi ku jamah.
Tak pernah sekalipun terlintas, dan aku terlalu bodoh untuk menjawab.

Ia tak menunggu, tapi kembali menarik tanganku yang masih dalam kuncian jarinya yang mantap, mengarahkanku pada sebuah kursi bar yang telah didekor cantik. Menarik kursi itu, dan menekan pundakku untuk duduk. Aku menuruti semua bahasa tubuhnya, bagai tersihir.

Mungkinkah kata-kata terakhirnya adalah sebuah mantra?
Karena tubuhku kini tak lagi menurutiku?

Reyno duduk di hadapanku. Menopang wajahnya dengan sebelah tangannya, wajah tampannya masih terlihat walau samar dalam keremangan cahaya lilin. Aku menatapnya dalam diam.
Gugup. Entah apalagi.

JUST ONE BELIEVE (complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang