Pagi itu aku terbangun agak cepat. Kulihat jam dan ternyata masih pukul tujuh pagi. Karena terlalu banyak tidur sejak kemarin, mataku rasanya bengkak.
Aku menggeliat di atas kasur mewah itu, kemudian bangkit. Kurapihkan kasur itu dan kulipat selimutnya. Memang kasur nyaman itu membuat badan terasa segar ketika bangun. Pikirku sambil melirik merk kasur itu ketika merapihkannya.
Hari ini aku tidak kuliah, mungkin lebih baik aku pulang, entah apa yang terjadi di kontrakan yang kutinggal semalaman.
Aku berjalan melewati lemari. Tapi mendadak aku berhenti di depan sebuah kaca pada pintu lemari itu. Aku melihat tubuhku yang terbungkus kaos oblong besar berwarna putih dengan tulisan "olive you" , ada gambar buah olive hijau lucu di atasnya. Reyno meletakkan baju itu di atas kasur ketika aku selesai mandi semalam. Saking besarnya, kaos itu mendadak menjadi daster di tubuh mungilku. Aku terkikik pelan menatap pantulanku cermin itu.
Aku memutuskan untuk turun, dan melihat situasi di bawah. Tampak jelas Reyno masih tertidur di atas sofa. Perlahan aku mengendap-endap turun, ada sedikit perasaan khawatir jika aku akan membangunkannya.
Begitu sampai di bawah aku langsung berjalan ke arah dapur, melewati Reyno dari belakang. Kubuka beberapa laci untuk mengambil gelas, dan mengisinya penuh. Hampir dua kali aku menghabiskan cairan yang diisi penuh di gelas itu. Rasanya sangat haus. Kuletakan gelas itu di atas meja dan mulai berjalan kembali menuju ke atas.
Sempat sepintas kulirik Reyno yang tertidur dengan pulas, laptopnya masih dengan posisi terbuka, dan beberapa tumpuk buku, yang entah tentang apa.
Selimutnya terjuntai jatuh di lantai, aku melangkah mendekatinya. Tapi gerakan tangan Reyno yang tiba-tiba berpindah posisi, membuatku berhenti dan bimbang.
Namun, pada akhirnya tetap saja aku merasa gemas melihat selimut itu, sambil mengendap-endap dari arah samping, perlahan aku mendekat ke hadapannya. Kuambil selimut itu dari lantai, dan dengan sangat hati-hati kuselimuti dia. Tampak tak ada reaksi.
Fyuhh ... syukurlah dia tidak terbangun.
Tapi setelah itu diam-diam aku memperhatikannya. Matanya yang tertutup, kulitnya begitu bersih, perlahan mataku bergulir menatap hidungnya lalu bibirnya, kugigit bibirku. Ingatan itu mendadak kembali, ketika merasakan bibir itu menciumku semalam. Sebalah tanganku alih-alih bergerak menyentuh bibir. Namun, mataku seketika melebar.
Kau ngapain sih Annora?!!
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, menghilangkan besitan pikiran tak senonoh.
Aku berpaling mengalihkan pandangan dari pria itu. Kepalaku kini menoleh ke belakang menatap mejanya yang terlihat berantakan. Entah kenapa rasanya terusik untuk merapihkannya satu-persatu.
Sesekali kulirik Reyno di belakang, yang bisa kapan saja terbangun. Beberapa menit berlalu. Begitu selesai, aku perlahan berjalan menjauhi Reyno untuk kembali naik ke atas. Namun, tiba-tiba saja sebuah tangan menarikku dari belakang, dan membuatku seketika jatuh terhempas ke arah sofa dan mendarat tepat di atas tubuh Reyno.
"Apa yang kau ...? " wajahnya dan wajahku hanya berjarak sejengkal. Dapat kulihat matanya yang menatapku tajam, dan bibirnya yang tersenyum kecil. Aku menggigit bibirku panik, dan mendorong tubuhnya untuk kembali berdiri.
Tapi sedetik kemudian Reyno menegakkan badannya, dan sebelah lengannya seketika menahan leherku, akupun tak sempat lagi menahan, dan sekali lagi tubuhku kembali terhempas ke arahnya. Membuat bibirku tak sengaja mendarat di atas bibirnya.
Aku berniat menarik diri, tapi bibir Reyno malah bergerak perlahan menciumku.
"Mmhh ...!" aku kembali hendak melepasnya, tapi sebelahnya tangannya malah beranjak menahan pinggangku lebih kuat. Perlawananku terasa sia-sia, tenagaku tak sebanding dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
RomanceHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
